Aja Were

Sains

Sains adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan alam ini sehingga hidup di dunia ini lebih bermanfaat.

Sebagai pengetahuan modern yang memakai langkah-langkah baku yang dikenal sebagai metode ilmiah dimana dalam persetubuhan weda dengan ilmu pengetahuan dan teknologi disebutkan bahwa :
Sesuai dengan hukum Rta, sains dan agama menurut perspektif Hindu bukanlah sesuatu yang bertentangan, tetapi perlu dipadukan untuk suatu inovasi yang lebih baik. 
Petualangan manusia dalam dunia sains berawal dari keragu-raguan dan bermuara pada kepercayaan akan adanya ketidakpastian. Sebaliknya, penyerahan diri pada dharma, secara umum dikenal sebagai ajaran agama. Hal ini bermula dari kepercayaan dan mencapai puncaknya, bermuara pada tingkat keyakinan dan kepasrahan.
Jika ajaran agama dianggap sebagai filsafat hidup, sementara filsafat merupakan induk bagi pengetahuan, maka keduanya sebenarnya merupakan sebuah himpunan dan himpunan bagiannya, sehingga tidak layak jika keduanya masih dipertentangkan.
Memperoleh kebenaran ilmiah, pengetahuan modern memakai langkah-langkah baku yang dikenal sebagai metode ilmiah. Dalam ajaran agama hindu dikenal dalam falsafat Samkhya, langkah-langkah itu disebut Tri Pramana sebuah metode ilmiah dalam Hindu. 

Eksperimen bermula dari adanya problema yang perlu dipecahkan.
  • Pemecahan masalah dilakukan dengan pengamatan atas gejala-gejala yang timbul (Anumana Pramana); 
  • Mengumpulkan keterangan-keterangan dari sumber tertulis atau pengalaman (Agama Pramana); 
  • Serta dibuktikan dengan pengamatan langsung (Praktyasa Pramana).
Pengetahuan kebenaran yang telah berhasil disingkap harus dipublikasikan, disampaikan kepada orang lain dan tidak boleh dikuasai sendiri. Hal ini disebabkan pengetahuan bersifat mengalir (Saraswati), bagaikan siklus air (Banyu Pinaruh) dalam kerangka Tri Pramana.

Sungguhlah berdosa jika sampai kita memiliki ilmu pengetahuan itu sendiri tapi hanya kita kuasai sendiri. Agar kita tidak serakah terhadap ilmu, maka ada baiknya kita mengingat amanat kitab suci WEDA
  • Seperti nyala api, pengetahuan dan keterampilan hendaknya disebarluaskan kepada yang lainnya (Rigveda 1.12.6). 
  • Dan dalam Bhagawadgita IV.33 disebutkan bahwa : persembahan berupa ilmu pengetahuan lebih bermutu daripada persembahan materi ; dalam keseluruhannya semua kerja ini berpusat pada ilmu pengetahuan.
Sebagai tambahan, begitu pula dalam ajaran agama Hindu khususnya di Bali, pada prinsipnya disebutkan memang pada dasarnya sesuatu itu perlu dibuktikan kebenarannya seperti halnya beberapa disebutkan :
  • Pada mulanya alam semesta, bhuwana agung ini belum ada apa-apa atau kosong, yang ada hanya kekosongan (luang) dan awalnya yang ada hanya satu yaitu Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana yang dijelaskan eka wara sebagai tingkatan dalam wewaran.
  • Jumlah hari peredaran bumi mengelilingi matahari (surya pramana) dalam setahun = 365,24; dan jumlah hari peredaran bulan mengelilingi bumi (candra pramana) dalam setahun = 354,37 Selisihnya = 10,87 dibulatkan = 11, dimana angka sebelas disebutkan :
    • Digunakan dalam sistem kalender bali “Saka-Bali” (Surya-Chandra Pramana) untuk menentukan pengrepeting sasih dalam menghitung tibanya hari tahun baru, yakni pada: penanggal ping pisan sasih kadasa (tanggal satu bulan ke-sepuluh).
    • Meru tumpang 11 (sebelas) adalah lambang dari Eka Dasa Dewata dengan simbol 11 huruf / aksara suci yaitu 10 huruf suci : sa, ba, ta, a, i, na, ma, si, wa, ya dan 1 huruf suci Omkara sebagai lambang kesucian dari Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa yang biasanya diucapkan diawal setiap mantra.
  • Sanatana Dharma sebagai jalan abadi, sehingga untuk menjadi yang utama, manusia hendaknya menempuh jalan hidup yang ilmiah. Jalan hidup ilmiah hanya dapat diperoleh melalui proses belajar dan pembelajaran untuk dapat meningkatkan kecerdasan dalam tuntunan guru pengajian di sekolah, kampus dll.
***