Toleransi

Toleransi (dalam pandangan umat Hindu di Bali) adalah prinsip dharma yang senantiasa memberikan kedamaian. 
Dengan selalu berpedoman pada sikap mardhawa yaitu dengan selalu bersifat rendah hati, menyadari diri memiliki kelebihan dan kekurangan serta bersikap empati tanpa memandang perbedaan yang ada merupakan cerminan suatu toleransi yang ditunjukkan dalam kehidupan masyarakat dengan beragam budaya yang ada.
Hal ini juga tercermin dari penggunaan saput poleng dengan sikap toleransinya untuk dapat menghindari kemunafikan sosial (hipokrit sosial) yang ujung-ujungnya mengakibatkan perpecahan diantara kita semua.
Dalam Rg. Veda X.191. 3-4 menyatakan bahwa pada hakekatnya semua manusia adalah bersaudara.
Vasudaiva Kutumbakam, semua mahluk adalah bersaudara.
Persaudaraan umat manusia ini disebabkan oleh satu asal dan kembalinya bagi setiap mahluk dan alam semesta, sama-sama menikmati kehidupan di karibaan bumi pertiwi tercinta ini.
Oleh karena itu Tuhan Yang Mahaesa, Sang Hyang Widhi mengamanatkan kepada kita untuk dapat hidup dalam suasana damai penuh kebahagiaan dalam persaudaraan yang sejati. 
Tuhan memang menciptakan manusia di dalam berbagai jenisnya dan betapa indahnya hidup dengan toleransi agama dimana disebutkan ada ras, suku, dan etnis yang bervariasi. Makanya juga ada warna kulit, bentuk tubuh, dan lain-lain yang berbeda-beda. 
Tetapi justru inilah letak keindahannya. Secara antropologis, biologis dan psikhologis memang Tuhan menciptakan manusia dalam rupa dan bentuk yang berbeda. Tetapi seluruh perbedaan itu justru menjadikan dunia menjadi warna-warni dan menghadirkan keanekaragaman.
Juga dalam Lontar Sutasoma yang disusun oleh Mpu Tantular disebutkan bahwa : “Bhineka Tunggal Ika, tan hana Dharma Mangrwa”, yang artinya disebutkan dalam widhi tattwa yaitu : “Walaupun Berbeda beda tetapi tetap satu tujuan dan tidak ada Dharma yang dua”.
***