Kucing

Kucing adalah Meng atau Meong dalam bahasa Balinya.
Dimana dalam mitos yang beredar di Bali disebutkan; 
Seseorang yang menabrak kucing, sering dianggap akan mendapatkan kesialan sehingga perlu dilakukan upacara ngulapin, mitos atau fakta. Hanya Tuhan yang tahu.

Dalam penggolongannya, kucing termasuk kedalam Jarayudha yaitu bangsa binatang yang menyusui yang memiliki dua aspek kemampuan dwi pramana.

Dan berikut untuk dapat kita renungkan bersama. Semoga ada manfaatnya.

Konon, diceritakan pada suatu hari terlihat dua anak kucing sedang berlarian mengejar seekor tikus yang segera menyelinap masuk ke dalam gorong - gorong. 
Si tikus selamat dan para kucing kembali bermain-main riang.

Hal tersebut akhirnya terlihat oleh seorang Manu dan beliau berkata :
"Hai anak-anak kucing. Kalian telah gagal menangkap tikus. Bagaimana kalian tetap ceria bermain-main dalam kegagalan itu?"

"Manu, kami diajari oleh ayah kami, bahwa dalam hidup ini, bagi semua mahluk dalam peran apapun, selalu ada dua kemungkinan yang harus diberikan dengan rasa yang sama: 
  1. Kesuksesan untuk meraih harapan, atau;
  2. Kegagalan dalam pencapaiannya.
Jika kami hanya fokus pada kegagalan, maka akan ada hari-hari yang kami lewati dengan kesedihan dan keputusasaan.
Padahal setiap hari adalah berkah kehidupan. Bukankah demikian, Manu?", sahut mereka sambil kembali bermain-main riang meninggalkan Manu dalam keterpanaan. [Ref/Budi Tajun].

Demikianlah diceritakan, dan sebagai renungan;

Jauh dari kesialan dan dekat dengan keberuntungan masih sangat relevan dengan hukum karma, tabur tuai, karma phala.

Sejatinya disebutkan ada banyak pintu rahasia dikehidupan ini.
Kuncinya sering bersembunyi didalam karma masing - masing.

Karma yang selalu mengikuti jiwa, berakibat ke badan dalam tiga dimensi waktu, masa lalu, sekarang dan nanti, 
Karma mengikuti tiga dimensi waktu, namun karma bukanlah bersifat kekal.
  • Jika ingin melihat masa lalu (atita).
Apa yg terjadi sekarang karena masa lalu, demikian juga dengan yang terjadi saat ini, di kehidupan susah senang karena masa lalu. 
Orang sering lupa dgn masa lalu, tapi Karma tidak bisa lupa dengan semua itu.
  • Jika ingin melihat masa depan (nagata).
Apa yg dilakukan sekarang ini, akan menjadi masa depan. 

Orang sering takut, dan ketakutan dengan masa depan, tapi karma baik buruk saat ini, tetap akan jadi masa depan. [ref/Agung Subagia]. Sehingga hendaknya disebutkan :

Kurangi ketakutan dan tercekam oleh karma-karma buruk, terima, jalani, tetap tekun, tetap tulus, dan tetap berbahagia melakukan semua aspek - aspek kebaikan hidup.

Itulah kunci masa depan;
Jauh dari kesialan dekat dengan keberuntungan.
***