Tahukah Anda ? Yasa kerti lan bhakti... memargi antuk manah suci.

Kegagalan

Kata orang-orang, kegagalan bukanlah pilihan.
Karena seharusnya sesuatu itu berjalan sesuai dengan rencana;
Namun ketika kegagalan adalah suatu pilihan; 
Jika semua itu terjadi,
Apakah kita akan menyerah ?
Hidup ini juga adalah test dan rintangan seperti halnya dikutip dalam kisah Dronaparwa, different kind of Mahabharata dimana kegagalan-kegagalan kerap menyertai usaha yang Beliau lakukan.

Diceritakan, pada zaman dahulu demi keperluan istri dan puteranya, Drona ingin bebas dari kemiskinan.
Dan teringat akan janji yang diberikan oleh temannya yang bernama Drupada, diapun ingin menemuinya untuk meminta bantuan.
Tetapi sayang, karena mabuk oleh kekuasaan, Raja Drupada menolak untuk mengakui Drona (sebagai temannya) dan menghinanya dengan mengatakan bahwa ia manusia rendah.
Drupada memberi penjelasan yang panjang dan sombong kepada Drona tentang masalah kenapa ia tidak mau mengakui Drona. 
Drupada berkata, “Persahabatan, adalah mungkin jika hanya terjadi antara dua orang dengan taraf hidup yang sama”. 
Dia juga berkata bahwa sebagai anak-anak, adalah hal yang mungkin bagi dirinya untuk berteman dengan Drona, karena pada masa itu mereka sama. 
Sekarang Drupada menjadi raja, sementara Drona berada dalam kemiskinan. Dalam keadaan seperti ini, persahabatan adalah hal yang mustahil. Tetapi ia berkata bahwa ia akan memuaskan hati Drona apabila Drona mau meminta sedekah selayaknya para brahmana daripada mengaku sebagai seorang teman. 
Drupada menasihati Drona supaya tidak memikirkan masalah itu lagi dan ingin ia hidup menurut jalannya sendiri. 
Dan Drona pun pergi membisu, namun di dalam hatinya ia bersumpah akan membalas dendam.
Drona pergi ke Hastinapura dengan harapan dapat membuka sekolah seni militer bagi para pangeran muda dengan memohon bantuan Raja Dretarastra. 
Pada suatu hari, ia melihat banyak anak muda, yaitu para Korawa dan Pandawa yang sedang mengelilingi sumur. Ia bertanya kepada mereka tentang masalah apa yang terjadi, dan Yudistira, si sulung, menjawab bahwa bola mereka jatuh ke dalam sumur dan mereka tidak tahu bagaimana cara mengambilnya kembali.
Drona tertawa, dan menasihati mereka karena tidak berdaya menghadapi masalah yang sepele. 
Yudistira menjawab bahwa jika Sang Brahmana (Drona) mampu mengambil bola tersebut maka Raja Hastinapura pasti akan memenuhi segala keperluan hidupnya. 
Pertama Drona melempar cincin kepunyaannya, mengumpulkan beberapa mata pisau, dan merapalkan mantra Weda. 

Kemudian ia melempar mata pisau ke dalam sumur seperti tombak. Mata pisau pertama menancap pada bola, dan mata pisau kedua menancap pada mata pisau pertama, dan begitu seterusnya, sehingga membentuk sebuah rantai. Perlahan-lahan Drona menarik bola tersebut dengan tali.
Dengan keahliannya yang membuat anak-anak sangat terkesima, Drona merapalkan mantra Weda sekali lagi dan menembakkan mata pisau itu ke dalam sumur. Pisau itu menancap pada bagian tengah cincin yang terapung kemudian ia menariknya ke atas sehingga cincin itu kembali lagi. 
Karena terpesona, para bocah membawa Drona ke kota dan melaporkan kejadian tersebut kepada Bisma, kakek mereka.
Bisma segera sadar bahwa dia adalah Drona, dan keberaniannya yang memberi contoh, ia kemudian menawarkan agar Drona mau menjadi guru bagi para pangeran Kuru dan mengajari mereka seni peperangan. 

Kemudian Drona mendirikan sekolah di dekat kota, dimana para pangeran dari berbagai kerajaan di sekitar negeri datang untuk belajar di bawah bimbingannya.

Demikianlah sebagaian dari petikan ceritanya;
Dan karena kita sejatinya punya fantasi yang luar biasa dalam hidup ini;
Jika kamu menerima dirimu apa adanya, dunia akan menerimamu juga;
Dan itu semua berasal dari dalam darimu sendiri. 
Karena itu, jika kamu gagal....
Hendaknya kamu akan bangkit lagi,
gagal dan bangkit lagi untuk mencapai kesuksesan dalam hidup ini.
***