Aja Were

Atita

Atita artinya penyesuaian dengan karma wasana masa lampau sebagai bagian dari Tri Semaya yang berorientasi pada kelangsungan hidup setiap generasi dari masa ke masa.
  • Melalui perpaduan dengan kelahiran, kehidupan dan ketiadaan nantinya yang berkaitan dengan Tri Kona disebutkan bertujuan agar dapat membangun keseimbangan alam semesta dan manusia sepanjang masa.
  • Penyesuaian kesucian dan keharmonisan dengan melakukan persembahyangan pada saat purnama juga disebutkan perlu dilakukan yang tujuan agar kita senantiasa diberikan jalan menuju ke alam yang Sunyata, alam yang tidak ada konflik, alam kebebasan dan alam kebahagiaan Illahi.
Di dalam Sundarigama dibalik hari suci purnama, ada disebutkan sebagai berikut :
“Muah ana we utama parersikan nira Sanghyang Rwa Bhineda, makadi, sanghyang surya candra, atita tunggal we ika Purnama mwang Tilem. Yan Purnama Sanghyang Wulan ayoga, yan ring Tilem Sanghyang Surya ayoga ring sumana ika, para purahita kabeh tekeng wang sakawangannga sayogya ahening-hening jnana, ngaturang wangi-wangi, canang biasa ring sarwa Dewa pala keuannya rin Sanggar, Parhyangan, matirtha gocara puspa wangi”.
.............. Bertepatan dengan saat Sanghyang Surya beryoga memohonkan keselamatan dunia kehadapan Hyang Widhi Wasa. Pada hari suci purnama yang demikian itu sudah seyogyanya para rohaniawan dan semua umat manusia menyucikan dirinya lahir bathin dengan melakukan upacara persembahyangan di Sanggar-sanggar atau Parhyangan-parhyangan dan menghaturkan yadnya kehadapan Hyang Widhi.
Umat Hindu meyakini Bahwa kelahirannya di dunia ini tidak terlepas dari pengaruh karma masa lalunya. 
  • Sisa- sisa karma dimana hidup yang terdahulu disebut dengan karma wasana
  • Maka pada saat Purnama ini kita juga hendaknya mengadakan pembersihan secara lahir bathin. 
    • Karena itu, disamping bersembahyang mengadakan puja bhakti kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugrahNya;
    • Juga kita hendaknya mengadakan pembersihan dengan air (mandi yang bersih). 
Dalam Manavadharmasastra V.109 disebutkan bahwa :
Kondisi bersih secara lahir bathin di dalam kehidupan ini sangat perlu, karena di dalam tubuh dan jiwa yang bersih akan muncul pemikiran, perkataan dan perbuatan yang bersih pula, sehingga tercapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Jadi kebersihan sangat penting artinya untuk bisa tercapai suatu kebahagiaan, lebih-lebih dalam hubungannya dengan pemujaan kepada Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Suci), maka kebersihan (kesucian) secara lahir bathin merupakan syarat mutlak.
Purnama memberi kesempatan seluas-luasnya pada umat manusia untuk melakukan ritual pemujaan. Pengendalian diri dan pendidikan budi pekerti. Hendaknya hari suci purnama betul-betul dimanfaatkan untuk memupuk nilai-nilai keimanan dalam diri setiap orang, dan orang yang berilmu pengetahuan hendaknya seperti Bulan Purnama memberi kesejukan dan penerangan bagi semuanya karena purnama hari yang identik dengan kesucian, keharmonisan, kegembiraan. 
Bulatkan tekad dan niat untuk selalu berada di jalan yang lurus, percaya diri bahwa Sang Hyang Widhi Wasa akan senantiasa membimbing umatNya menuju ke alam yang Sunyata, alam yang tidak ada konflik, alam kebebasan, alam kebahagiaan Illahi. Pastikan Beliau senantiasa hadir di tengah-tengah pemujaNya. 
Berkaitan dengan hal ini, persembahan upakara ini tentu juga disebutkan harus dilandasi dengan perasaan kasih yang tulus, sebagai wujud bhakti kepadaNya. 
  • Perbedaan dalam hal bentuk sesajen atau banten, sesungguhnya hanyalah kulit luarnya saja, namun makna yang terkandung didalamnya tetap sama. 
  • Perbedaan bentuk sesajen atau banten di tiap-tiap daerah tentu tidak bisa lepas dari konsep Desa, Kala, Patra
Yang terpenting adalah jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan pada saat Purnama untuk melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Sang Hyang Chandra, dengan bhakti yang mendalam, dengan hati penuh kelembutan, kewaspadaan, dan kewaskitaan. 
Senantiasa eling dan waspada, sehingga tidak terpengaruh oleh nafsu-nafsu jahat dalam diri dengan cara sujud dan bhakti kepadaNya. 
Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kebhaktian yang tulus maka nafsu-nafsu jahat akan sulit mempengaruhinya. 

Namun demikian sebagai bahan acuan untuk masing-masing Rumah Tangga, dapat menggunakan upakara sebagai berikut:
 ***