Aja Were

Sumber Air

Sumber Air adalah sumber kehidupan pada masa peradaban kuno dunia.
Seperti halnya di Bali ketika pada zaman bercocok tanam baru dimulai, dimana pada masa itu mereka telah meninggalkan cara hidup mengembara dan membuat desa-desa kecil dan membangun pertanian.
Menurut umat Hindu Dharma, sumber mata air bisa saja disebut berupa "Yeh Klebutan";
Dan pentingnya pemeliharaan sumber mata air tersebut agar dapat dilakukan secara sekala dan niskala biasanya dilakukan dengan cara :
    • Mepekelem yaitu upacara butha hita sebagai media permohonan kepada Tuhan agar sumber - sumber air dapat berfungsi dengan baik menjadi sumber kehidupan di alam nyata ini.
    • Danu Kerti sebagai kewajiban manusia untuk menjaga kesucian atau kelestarian sumber-sumber air tawar seperti danau, berbagai sumber mata air dan sungai/tukad seperti pelaksanaan upacara labuh gentuh dll.
    • Keberadaan pelinggih atau pelangkiran yang ada pada sumur, jeding dll disebutkan pula untuk stana Bhatara Wisnu sebagai pangraksa jagat.
    • Pura Ulun Suwi (yang dibangun pada setiap wilayah subak atau beberapa subak yang mempunyai sumber air yang sama)
Pada zaman dahulu dalam peradaban-peradaban dunia kuno (atau disebut juga sebagai “peradaban dunia kuno”) yang merupakan sebuah periode sejarah manusia disebutkan :
Di periode ini, dikatakan terdapat 6 peradaban besar di masa lalu (atau disebut juga sebagai masa “ancient” atau “classic.”
Para peradaban kuno tersebut memiliki sebuah persamaan yang mencolok. 
Persamaan itu adalah bahwa masing-masing peradaban berdiri dan berkembang di wilayah yang terdapat sumber air, terutama sumber air mengalir (sungai/Tukad). 
Hal ini menjadi bukti yang selaras dengan fakta perkembangan peradaban manusia yaitu pada tahapan pertanian. 
Pertanian yang membutuhkan irigasi (pengairan) dalam prosesnya membuat manusia berpindah dan bermukim di wilayah yang dekat dengan sumber air terutama sumber air mengalir untuk mendukung kegiatan tersebut.
***