Aja Were

Tukad

Tukad adalah sungai dalam bahasa Balinya yang memiliki banyak misteri dan mitos.

Keasriannya disebutkan hendaknya dapat dijaga dengan baik sebagai salah satu dari sad kerti agar terciptanya keseimbangan di alam ini.
Diceritakan dahulu seorang bernama Wayan sangat gemar memancing dan layaknya pemancing mania, dia tidak segan-segan datang ke sungai lebar dan tenget/angker.
Suatu ketika dia mengangkat sebuah batu besar hitam yang dia temukan di pinggir sungai dengan alasan untuk tempat duduk. 
Batu yang dia duduki ternyata rumah dari sekumpulan makhluk halus, dan kontan saja hal itu membuat petaka besar. 
Kakinya tiba-tiba terasa kesemutan dan susah bergerak, lalu kaku dan sama sekali tidak bisa digerakkan. 
Dia mengerang kesakitan, dan pancing yang dia bawa dilepaskan.
Ia lantas berteriak minta tolong sekeras mungkin, namun tidak ada yang datang, sebab tukad itu jauh dari pusat keramaian. 

Dia ingat dengan pesan mendiang nenek, bahwa tukad dimanapun pasti ada penunggunya. Teringat pesan itu, ia kemudian matur: 
“Aduh… kalau saya pernah berbuat salah di sini, mohon maaf. Saya hanya memancing dan jika saya keliru saya minta maaf.” 
Setelah berkata demikian, Wayan masih saja tidak dapat bergerak dan kakinya kaku laksana kayu kering. 
Darah mudanya mulai memuncak, merasa sudah minta maaf malah sakitnya menjadi-jadi, maka timbullah niatnya untuk melawan makhluk halus itu kali ini. 
Wayan ingat dengan sebuah mantra yang diberikan guru SMA nya dulu yang katanya baik untuk melindungi diri.
Mantra itu yang bernama Mrtyunjayamantra dan itulah yang diucapkannya sekarang.
Dia baca mantra itu keras-keras dengan perasaan melawan dan berkali-kali, dia sendiri tidak sadar berapa kali dia bacakan mantra itu. 
Anehnya, kakinya sekarang terasa ringan kembali, tidak kaku lagi. Kesemutannya berangsur menghilang dan dengan segera dia bangkit lalu pergi meniggalkan tempat itu. Merasa kurang aman lalu dia nunas baos ke balian, dan menemukan jawaban bahwa batu yang dia duduki adalah rumah dari bangsa Jin. 
Makhluk halus itu ketakutan mendengar suara Mantra dan badannya seperti dibakar, oleh sebab itu mereka kabur.

Bila kita menalar dengan seksama bahwa mantra sejatinya adalah gelombang-gelombang elektromagnetik yang dapat membawa perubahan energi potensial bagi tubuh. Kekuatan ini tidak dapat dilihat secara mata telanjang sebab dia berada di jalur transedensi, sedangkan tubuh jasmani kita ada di jalur immanen.
Kekuatan niskala inilah yang datang kemudian meliputi dunia material dan membawa pengaruh yang kuat. 
Jadi kekuatan mantra, berada dalam dua aspek, pertama niskala dan kedua adalah sekala. 
Dengan demikian, keselamatan yang didapat lewat membaca mantra adalah keselamatan jasmani dan rohani. Sebab tubuh kita akan mengalami gangguan jika dunia niskala terganggu. 
Untuk kasus ini sudah banyak bukti yang membenarkan. 
Sekarang pembaca budiman yang memiliki bagiannya, entah yakin atau tidak, yang jelas begitu mantra diucapkan kekuatan itu sudah langsung bereaksi.

Demikian dikatakan kekuatan dari sebuah mantra Mrtyunjaya dalam Budaya Bali sebagai mantra pengusir setan, iblis, jin dan mahluk halus lainnya.

Dan mantra Mrtyu ini sebagai panugerahan dari Dewi Durga disebutkan dapat diucapkan sebagai berikut :
Ong mrtyunjaya aya dewa sya
Yona mamyaman kirtaye
Dirgghayusa mawa pnotih
Sanggrame wijayam bhawet 
Ong hayu werdhi yaso werddhi
Werddhi prajna suka sriya
Dharma santana werddhisca
Santute sapta werddhi syat.
Dan semoga dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
***