Aja Were

Kahyangan

Kahyangan berasal dari kata hyang (biasanya dihubungkan dengan sang, dang) merupakan kata sandang yang ditempatkan di depan sesuatu yang dimuliakan, dihormati. 
Jadi, hyang disini berarti sesuatu yang dimuliakan, disucikan, dihormati, dan dijunjung. Kata hyang ini kemudian mendapakan awalan ka dan akhiran an, sehingga menjadi kahyangan.
Sebagai salah satu dari istilah tempat suci Agama Hindu seperti halnya pura ataupun candi;
Kahyangan itu dikatakan juga adalah tempat, kedudukan, sthana, linggih, demikian pula kata parhyangan (dalam Tri hita Karana) yang artinyanya juga sebagai tempat atau sthana yang disucikan.
Tidak hanya pada bangunan yang disebut sebagai Kahyangan/Parhyangan saja yang disucikan, melainkan seluruh wilayah atau komplek yang masuk dalah kahyangan/parhyangan tersebut juga disucikan.
Dan untuk mengenal lebih jauh tentang macam-macam kahyangan yang ada di Bali disebutkan diantaranya yaitu :
  • Kahyangan Tiga, sebagai tempat pemujaan terhadap Trimurti yaitu kemahakuasaan Tuhan sebagai pencipta, pemelihara & pelebur.
  • Sad Kahyangan, sebagai tempat untuk sembahyang bagi masyarakat umum agar selalu diberikan keselamatan dan kesucian lahir bathin.
  • Pura Dang Kahyangan yang dibangun atas dasar penghormatan kepada Sang Maharsi yang dikelompokkan berdasarkan sejarah yang notabene sebagai tempat pemujaan dimasa kerajaan di Bali.
Dan dalam pelaksanaan upacara yadnya khusunya dalam pelaksanaan upacara pagerwesi yang dilengkapi dengan banten sesayut panca lingga yang menurut menurut Lontar Grya Kertha Ashrama disebutkan bahwa :
Sesayut iki druwen Ida Bhatara, yan ana wang nistha, madhya, Uttama, angarubah Kahyangan, ngawangun Kahyangan, yadyan ngingsirang Kahyangan, risampun puput rinadian Kahyangan ika, rikala ngaturang sesepuh, agung alit, sesayut puniki kemargiang, rawuhing pamuput karya. palaniya.....
***