Aja Were

Jagat

Jagat dalam definisinya berarti alam yang luas ini;
Dalam Bhuwanakosa III. 80 disebutkan bahwa :
“Seluruh alam ini muncul dari Bhatara Siwa, lenyap kembali kepada Bhatara Siwa juga” 
(sakweh ning jagat kabeh, mijil sangkeng Bhatara Siwa ika, lina wing Bhatara Siwa ya). 
Struktur Tattwa sebagaimana dikutip dari Agastyaparwa dalam BanyuwangiDharma disebutkan dapat diringkas sebagai berikut.
“Pada waktu datangnya Mahapralaya hilanglah caturbhuta, triloka, sapta patala, para dewa, dan alam semesta semua lenyap. 
Alam semesta menjadi kosong dan hanya Bhattara Sadasiwa yang tetap ada. Beliau bersifat mutlak (niratmakaswabhawa), luput dari sakala-niskala, Beliau disebut Bhattara Sarwa. 
Ketika Beliau berkehendak mencipta maka muncullah Caturbhuta, yaitu akasa dan bayu, kemudian prthiwi dan teja
Setelah itu Beliau menciptakan telur (andamkaroti). Akhirnya, Bhattara Brahma dan Wisnu lahir dari yoga Beliau. 
Seluruh ciptaan kemudian lahir dari yoga Bhattara Brahma, yaitu Sang Sanaka, Sang Nandana, Sanatkumara, Byasa, semua Brahmarsi, Sang Manu, dan para pitra (leluhur). 
Dari sinilah akhirnya berkembang alam semesta dan segala isinya”.
Sehingga pentingnya menjaga kesucian atau keharmonisan hubungan antara semua mahluk di alam ini sebagaimana yang terkandung dalam filosofi pelaksanaan Jagat Kerti secara sekala dan niskala.
***