Aja Were

Payadnyan

Payadnyan adalah bangunan pokok sementara yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya upacara yadnya seperti yang terlihat pada pelaksanaan upacara ngaben masal.

Dewasa nanceb Payadnyan (tempat untuk upacara) tersebut misalnya pada saat memukur menggunakan suatu areal khusus yang dipagari sebagai penyengker untuk dapat melindungi penghuninya.

Oleh sebab ketika dilaksanakannya Mapurwadhaksina
Sekah dijungjung atau dipangku mengelilingi Payadnyan dari arah Timur ke selatan (arah jarum jam) sebanyak tiga kali.
Pesertanya segenap sanak keluarganya dengan perangkat upacara dan lebih mantap diikuti dengan tarian rejang dan baris tombak yang merupakan bagian sakral.
Dan semua bahan bangunan payadnyan tersebut dikatakan berasal dari tumbuhan yang tumbuh disekitar desa tempat upacara. Dimana dikatakan jenis tumbuhan dan penggunaannya pada upacara memukur di desa Beng Gianyar Bali disebutkan;
Seperti misalnya penggunaan : Dendrocalamus asper (Schult.f.) Backer ex Heyne, Imperarta cylindrical (L). Beauv, Areca cathecu L. Cocos nuacifera L.
Kepercayaan umat Hindu di Bali, daun F.benjamina diyakini mempunyai bobot dan nilai gaib yang sangat istimewa, serta mampu melakukan suatu sifat khusus pada daun tersebut.

Berdasarkan kemampuannya itu, maka daun Ficus benjamina juga digunakan sebagai sarana untuk dipakai meminum tirtha;
Supaya daya tirtha itu lebih mujarab menjadi restu mulia apabila yang meminumnya orang jujur, 
dan sebaliknya merupakan kutukan mematikan apabila yang meminumnya orang curang. 
Dengan demikian maka pohon Ficus benjamina juga digunakan bahan pokok puspalingga supaya unsur-unsur 5 badan halus beserta karma mendiang melekat padanya.
***