Aswamedhikaparwa

Aswamedhikaparwa (Aswamedhika Parwa) adalah kitab ke 14 dari Mahabharata yang mengisahkan
  • Kelahiran kembali (Manumadi) Parikesit kembali yang sebelumnya tewas dalam kandungan karena senjata sakti milik Aswatama. 
  • Dan pelaksanaan upacara Aswameda yang melepas seekor kuda.
Dalam kitab Mahabharata 14 – Aswamedhikaparwa diceritakan;
Tak lama setelah Bharatayuddha berakhir, Yudistira diangkat menjadi Raja Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura
Untuk menengakkan dharma di seluruh Bharatawarsha, sekaligus menaklukkan para raja kejam dengan pemerintahan tiran, maka Yudistira menyelenggarakan Aswamedha Yadnya.
Sebuah upacara yadnya dimana dalam makna tattwa daksina diceritakan :

Tersebutlah perang Bharata Yudha berakhir, Sri Krishna menganjurkan kepada Pandawa untuk melangsungkan suatu upacara besar yang disebut Aswamedha Yadnya yang bertujuan untuk menyucikan kembali kerajaan Astina dan Indraprastha.

Untuk memimpin upacara besar tersebut Sri Krishna tidak membenarkan Pandawa menggunakan Pandita Agung Kerajaan. 
Pandawa agar memohon bantuan seorang Pertapa Suci dari Sudra Wangsa yang bermukim ditengah hutan seperti halnya Brahmana Dukuh
Karena anjuran Sri Krishna tentunya Pandawa sangat meyakini kebenaran ucapan Krisna tersebut. Karena tujuan upacara Aswameda Yadnya itu untuk menghilangkan sifat-sifat Ego. 
Pada mulanya Pandawa mengutus Patihnya untuk menghubungi Pandita Pertapa dari Sudra wangsa itu. 

Pandita tersebut tidak mau memimpin upacara tersebut. Kapan Pandawa mengadakan upacara Aswameda Yadnya yg ke seratus kalinya barulah akan bersedia untuk memimpin upacara besar tersebut. Ketidak-bersediaan Pertapa ini dilaporkan pada Sri Krishna. 
Sri Krishna mengetahui ketidak-bersediaanya Pandita Pertapa itu meminpin upacara Aswameda Yadnya itu karena yang datang bukan dari Pandawa sendiri. Orang yang punya kerja atau Sang Yajamana-lah yang harus datang langsung pada Sang Pandita.
Untuk suksesnya upacara tersebut Pandawa pun mengulang untuk mendatangi Pandita Pertapa itu. Kali ini Dewi Drupadilah yang berangkat menghadap Sang Pandita.

Dewi Drupadi datang menghadap dengan pakaian kesederhanaannya. Ternyata kedatangan Dewi Drupadi ini membawa hasil baik. Pandita Pertapa tersebut bersedia memimpin upacara Aswameda Yadnya tersebut. 

Singkat ceritra Upacara pun dilangsungkan, Sri Krishna mengatakan bahwa nanti akan ada ciri-ciri suksesnya upacara tersebut, apabila ada suara genta dan hujan bunga dari langit. 
Karena Pandita Pertapa itu tidak pernah hidup dikota, maka saat disuguhi makanan ala kota beliaupun makan menurut caranya sendri seperti dihutan.
Dewi Drupadi tertawa cekikikan dalam hatinya menertawakan cara makan sang Pandita. Istilah sekarang mungkin kampungan.
Setelah selesai upacara ternyata tidak ada hujan bunga dan suara genta dari langit. Ini berarti upacara Aswameda Yadnya tersebut telah gagal. 

Semuanya kaget. Sri Krishna sebetulnya sudah tahu penyebab kegagalan upacara tersebut. Namun demikian disuruhlah memeriksa semua keadaan. 
Apa ada yang barangkali sinis pada keberadaan Sang Pandita yang hidup dengan tradisi hutan. Ternyata Dewi Drupadi secara jujur mengakui kesalahannya bersikap sinis dalam hati. 
Dewi Drupadi pun mohon maaf pada Sang Pandita. 
Meskipun demikian hujan bunga dan suara genta pun tidak turun. Ini berarti upacara gagal. Setelah diteliti lagi tenyata dihadapan Sang Pandita memuja tidak ada Daksina. 
Karena alpanya, Daksina dalam upacara Aswameda Yadnya itulah yang menyebabkan gagalnya upacara tersebut. 
Setelah Daksina diadakan barulah suara genta dan hujan bunga turun drastis dari langit. Ini berarti upacara Aswameda Yadnya pun telah sukses dalam ceritra tersebut. 

Hal ini meyakinkan bahwa dengan cara mitologis bahwa Banten Daksina memang demikian penting kedudukan dalam upacara Agama Hindu.
***