Aja Were

Suku Bali

Suku Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan adat-istiadat dan kebudayaannya dengan kesadaran yang diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. 
Walaupun ada kesadaran yang demikian, dalam kajian kebudayaan Bali melalui eksplorasi artefak yang tersimpan di Museum Bali disebutkan kebudayaan artefak Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat.
Disamping itu agama Hindu yang telah lama terintegrasi ke dalam kebudayaan Bali, dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu.

Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu diberbagai daerah di Bali dalam zaman Majapahit dahulu, menyebabkan adanya dua bentuk masyarakat Bali-Aga dan Bali Majapahit (Wong Majapahit) Masyarakat Bali-aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan jawa-hindu dari majapahit dan mempunyai struktur sendiri. 
Orang Bali-Aga pada umumnya mediami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran, Cempaga, Sidatapa, Pedawa, Tigawasa, di kabupaten Buleleng dan di daerah kabupaten Karangasam.
Sekarang ini, komunikasi moderen, pendidikan, serta proses modernisasi telah membawa banyak perubahan–perubahan juga dalam masyarakat dan kebudayaan di desa-desa tersebut. 
Orang Bali majapahit yang pada umumnya diam di daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk pulao bali.Kecuali di pulau Bali, ada juga orang bali dibagian barat dari pulau Lombok, sedangkan usaha trasmigrasi oleh pemerintah telah menyebarkan mereka ke daerah-daerah lain seperti Sumatera selatan, Kalimantan Tengah, Sulausi dan Nusa Tenggara.
Pulau bali yang luasnya 5808,8 Km2 dibelah dua oleh suatu pegunungan yang membujur dari barat ke timur, sehingga membentuk dataran yang agak sempit di sebelah utara, dan dataran yang lebih luas di sebelah selatan.

Pegunungan tersebut yang untuk sebagian besar masih tertutup oleh hutan rimba yang lebat, mempunyai arti penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk.
Di wilayah pegunungan itulah terletak kuil-kuil (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali, seperti Pura Pulaki, Pura Batukaru, dan terutama sekali Pura Besakih, yang terletak di kaki Gunung Agung;
Sedangkan arah membujur dari gunung-gunung itu telah menyebabkan penunjukan arah yang berbeda untuk orang di Bali.

Dalam bahasa bali, 
  • kaja berarti ke gunung
  • dan kelod berarti ke laut. 
Demikian untuk orang bali utara, sebaliknya kelod untuk orang bali utara berarti utara dan untuk orang bali selatan berarti selatan. 
Perbedaan ini tidak hanya tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa bali,tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan juga sedikit bahasa.
Orang bali menyebut daerah dibagian utara itu daerah den bukit (kabupaten Buleleng sekarang) dan daerah-daerah di bagian selatan bali tengah (kabupaten Tabanan, Badung, Gianyar, Klungkung). 
Betapa besar besar arti dari konsep kaja –kelod dalam masyarakat Bali itu,nampak pula dalam kehidupan seharai-hari,dalam upacra agama,letak susunan bangunan – bangunan rumah kuil dan sebagainya.
Bahasa Bali termasuk keluarga bahasa- bahasa Indonesia. Dilihat dari sudut pembedaharaan kata-kata dan strukturnya, maka Bahasa Bali tak jauh berbeda dari bahasa-bahasa Indonesia lainnya.

Peninggalan-peninggalan prasasti Jawa-Hindu menunjukkan adanya suatu bahasa bali kuno yang agak berbeda dengan bahasa bali sekarang. 
Bahasa Bali kuno itu, disamping mengandung banyak kata sansekerta, pada masa kemudiannya terpengaruh juga oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit, yaitu saat zaman pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. 
Bahasa bali mengenai pula apa yang disebut “perbendaharaan kata-kata hormat”, walaupun tidak sebanyak seperti didalam bahasa jawa.
Bahasa hormat (basa halus) yang dipakai kalau berbicara dengan orang–orang tua atau tinggi, telah mengalami beberapa perubahan berhubung pengaruh modernisasi dan cita-cita demokrasi akhir –akhir ini.
Di Bali pun berkembang kesusastraan lisan dan tulisan baik dal;am bentuk puisi maupaun prosa. Disamping itu sampai kini di Bali didapati juga sejumlah hasil kesusastraan Jawa Kuno (kawi) baik dalam bentuk puisi maupun prosa yang dibawa ke Bali tatkala Bali di bawah kekuasaan raja-raja Majapahit.
***