Aja Were

Nara Singa Awatara

Nara Singa (Narasingha) adalah putra dari Prabu Hiranyakasipu dan Lilawati sebagai awatara yang berwujud manusia berkepala singa.

Kisah ini menggambarkan bahwa, 
rasa bhakti yang tulus dari seseorang, bukan ditentukan dari golongannya melainkan dari sifatnya.

Kisah Nara Singa sebagai awatara dewa wisnu dalam rudra deva diceritakan sebagai berikut, 

Menjelang akhir zaman Satyayuga (zaman kebenaran), 
  • seorang raja asura Hiranyakasipu membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan Wisnu, dan 
  • dia tidak senang apabila di kerajaannya ada orang yang memuja Wisnu. 
  • Sebab bertahun-tahun yang lalu, adiknya yang bernama Hiranyaksa dibunuh oleh Waraha, awatara Wisnu.
Agar menjadi sakti, ia melakukan tapa yang sangat berat, dan hanya memusatkan pikirannya pada Dewa Brahma. 
"Setelah Brahma berkenan untuk muncul dan menanyakan permohonannya, Hiranyakasipu meminta agar ia diberi kehidupan abadi, tak akan bisa mati dan tak akan bisa dibunuh"
Namun Dewa Brahma menolak, dan menyuruhnya untuk meminta permohonan lain. Akhirnya Hiranyakashipu meminta, bahwa 
  • ia tidak akan bisa dibunuh oleh manusia, hewan ataupun dewa, 
  • tidak bisa dibunuh pada saat pagi, siang ataupun malam, 
  • tidak bisa dibunuh di darat, air, api, ataupun udara, 
  • tidak bisa dibunuh di dalam ataupun di luar rumah, dan 
  • tidak bisa dibunuh oleh segala macam senjata. 
Mendengar permohonan tersebut, Dewa Brahma mengabulkannya.

Sementara ia meninggalkan rumahnya untuk memohon berkah, para dewa yang dipimpin oleh Dewa Indra, menyerbu rumahnya. Narada datang untuk menyelamatkan istri Hiranyakasipu yang tak berdosa, bernama Lilawati.
Saat Lilawati meninggalkan rumah, 
  • anaknya lahir dan diberi nama Prahlada
  • Anak itu dididik oleh Narada untuk menjadi anak yang budiman
  • menyuruhnya menjadi pemuja Wisnu, dan menjauhkan diri dari sifat-sifat keraksasaan ayahnya.
Mengetahui para dewa melindungi istrinya, Hiranyakasipu menjadi sangat marah. Ia semakin membenci Dewa Wisnu, dan anaknya sendiri, Prahlada yang kini menjadi pemuja Wisnu. 

Namun, setiap kali ia membunuh putranya, ia selalu tak pernah berhasil karena dihalangi oleh kekuatan gaib yang merupakan perlindungan dari Dewa Wisnu. 
  • Ia kesal karena selalu gagal oleh kekuatan Dewa Wisnu, 
  • namun ia tidak mampu menyaksikan Dewa Wisnu yang melindungi Prahlada secara langsung. Ia menantang Prahlada untuk menunjukkan Dewa Wisnu. 
Prahlada menjawab, "Ia ada dimana-mana, Ia ada di sini, dan Ia akan muncul".

Mendengar jawaban itu, ayahnya sangat marah, mengamuk dan menghancurkan pilar rumahnya. Tiba-tiba terdengar suara yang menggemparkan. 

Pada saat itulah Dewa Wisnu sebagai Narasinga muncul dari pilar yang dihancurkan Hiranyakasipu. Narasinga datang untuk menyelamatkan Prahlada dari amukan ayahnya, sekaligus membunuh Hiranyakasipu. 

Namun, atas anugerah dari Brahma, Hiranyakasipu tidak bisa mati apabila tidak dibunuh pada waktu, tempat dan kondisi yang tepat. Agar berkah dari Dewa Brahma tidak berlaku, 
  • ia memilih wujud sebagai manusia berkepala singa untuk membunuh Hiranyakasipu. 
  • Ia juga memilih waktu dan tempat yang tepat. 
  • Akhirnya, berkah dari Dewa Brahma tidak berlaku. 
  • Narasinga berhasil merobek-robek perut Hiranyakasipu. 
Akhirnya Hiranyakasipu berhasil dibunuh oleh Narasinga, karena ia dibunuh bukan oleh manusia, binatang, atau dewa. 
  • Ia dibunuh bukan pada saat pagi, siang, atau malam, tapi senja hari. 
  • Ia dibunuh bukan di luar atau di dalam rumah. 
  • Ia dibunuh bukan di darat, air, api, atau udara, tapi di pangkuan Narasinga. 
  • Ia dibunuh bukan dengan senjata, melainkan dengan kuku.
Narasinga memberi contoh bahwa Tuhan itu ada dimana-mana. Rasa bakti yang tulus dari Prahlada menunjukkan bahwa sikap seseorang bukan ditentukan dari golongannya, ataupun bukan karena berasal dari keturunan yang jelek, melainkan dari sifatnya.
***