Keras Kepala

Keras Kepala adalah sifat seseorang yang mau menang sendiri dan emosional.
Memiliki watak keras kepala dan emosional terkadang dikatakan membuat hidup menjadi tidak nyaman dan merugikan diri sendiri dan orang banyak.

Seperti halnya sifat dari Prabu Drestarasta dan putra-putranya dalam kisah Mahabaratha sebagaimana dikutip dari Harian Terbit terkait kebijaksanaan Arya Widura;

Diceritakan tersebutlah di Kerajaan Hastinapura. Arya Widura sebenarnya titisan Bathara Darma. Ia diangkat menjadi Perdana Menteri dan penasehat raja.

Widura tidak suka dengan gaya jumawa para Kurawa hingga Sangkuni yang terus memprovokasi keponakannya. 
Nasehat nasehatnya selalu saja dimentahkan Sangkuni, dan Duryudana. 

Tatkala perang besar Baratayudha dimulai iapun memberikan banyak nasehat kepada Raja Destrarata untuk mencegah korban anak anaknya dan menghentikan perang, paska Bisma yang Agung tumbang.

Widura menasehati Raja Destrarata sebagai kakaknya agar pihak Kurawa :” Mampu mengendalika diri dari ketamakannya dengan mengembalikan apa yang menjadi hak para Pandawa. 
Kata kata Widura cukup keras agar para Kurawa selamat dari korban peperangan. 
Kurawalah penyebab perang yang mengabaikan rasa syukur wujud dan dalam pikiran perkataan dan perbuatan Penuh kejumawaan.

Sikap anak anak Destraraya selalu saja angkuh tiada kerendahan hati dan selalu mengabaikan keutamaan. Sehingga para Kurawa tiada mampu mengalahkan diri sendiri. Tiada mampu lagi menghormati orang lain, mengajak orang setua Bisma untuk berperang. Guru Durna yang semestinya menikmati hidup di hari tuanya, namun harus mengangkat senjata membela Kurawa.

Widura terus mengutakan isi hatinya. Ia mengatakan :” sikap bijaksana untuk menyingkirkan pikiran buruk dan kejumawaan Karakter yang kuat seorang raja teguh dalam menjalankan komitmennya secara konsisten. Kesadaran, tanggung jawab untuk mencegah korban yang lebih besar lagi”.

Pikiran dan perkataan Arya Widura kepada Raja Destrarata merupakan bagian dari suatu tanggungjawabnya atas kehidupan dan keselamatan bagi anak anak Kurawa. Ia tahu para Kurawa tiada lagi perisai pelindungnya. Kurawa anak anak yang tidak terlatih, malas dan lelah berpikir. Hidup dan kehidupannya di bawah bayang bayang Bisma dan Guru Durna (Drona) serta Raja Angga Karna. Kejumawaan Kurawa tak lain untuk menutupi kelemahannya.

Walaupun Raja Destrarata mulai tidak suka namun Widura terus aja berkata bahwa :
” Pikiran pengendali jiwa dan raga, tatkala pikiran dibiasakan positif maka akan menuju kepada sesuatu yang baik dan benar. Demikian juga sebaliknya. 

Hidup merupakan anugerah dan kesempatan untuk memberi kehidupan bagi sesamanya. Hidup di dunia merupakan peziarahan panjang menuju keabadian. 
Apa yang tabur di dunia akan menjadi buah keabadian. 
Hati yang keras dan selalu ingin dipahami serta menang sendiri akan berdampak pada duka panjang

Raja Destrarata berteriak :
” Jangan kau lukai batinku ini Widura!” 
Namun Widura menjawab :
”Luka batin akan menimbulkan sakit hati yang mendalam memendam dendam yang tak berkesudahan, itu semua yang dilakukan anak anakmu. Para Kurawa selalu saja haus akan kekuasaan. Mereka lupa bahwa :” Kekuasaan merupakan amanah dan tanggungjawab bagi hajat hidup banyak orang untuk semakin meningkat kualitas hidupnya. 

Sebaliknya Kurawa menyalahgunakannya”.
Aryawidura tetap hidup dalam kebaikan dan kebenaran hingga akhir hayatnya. Jiwanya moksa dan menyatu dalam diri Yudistira. Yang juga titisan Batara Dharma. 

Ia terus menyuarakan kebenaran, ia sadar Kurawa tidak akan mdengarkannya. Apa yang dilakukan Arya Widura merupakan teladan keteguhan hati membela kebenaran walau dalam area kaum yang penuh ketidakbenaran. 
***