Aja Were

Tabia

Tabia adalah cabe dalam Bahasa Balinya yaitu sebagai penyebab dari rasa pedas itu.

Dimana di Bali, dengan susunanya yang unik akan membentuk sebuah rebasan yang memiliki makna tertentu.

Ibaratnya seperti keunikan itu, proses hidup ini juga tidak seperti makan cabe seketika terasa pedasnya.

Terkadang semua telah dilakukan dengan baik secara sekala maupun niskala namun tiadalah ada perubahan.

Lalu bagaimana ????
Disebutkan bahwa, 
Janganlah berputus asa namun saatnya berserah diri secara total ....
Artinya;
Semua hal yang telah kita lakukan dengan ikhlas tulus tanpa pamerih akan berbuah manis.

Dan segalanya butuh kesabaran...

Karena sejatinya semua akan kembali kepada KARMA DAN WAKTU YANG SDH DITENTUKAN OLEH BELIAU.
Ibarat setiap satu buah mangga yang membutuhkan waktu berbeda2 untuk masak matang sempurna hingga mencapai rasa manis terbaik.

Sama halnya dalam proses kehidupan pun demikian;

Sehingga dikatakan, janganlah cepat berputus asa mendoktrin Tuhan tidak adil atas semua yang sudah dilakukan namun tiada berhasil.

Bersabarlah karena Beliaulah yang sudah mengatur kapan hari penuh berkah itu datang...

Sebagaimana dirimu mudah ikhlas menerima rasa itu;
  • Rasa pahit setelah mencicipi kopi;
  • Rasa pedas karena cabe
  • Rasa asin karena garam
  • Rasa manis oleh gula;
Begitulah hukum sebab akibat yang mengatur setiap tindakan atau kerja atau karma di kehidupan semesta ini berjalan apa adanya untuk diterima apa adanya pula untuk setiap sebab yg kau pilih, sesungguhnya kau telah pula memilih akibat dari sebab itu, begitulah setiap pilihan karma akan menyertakan pahala di kemudian hari.

Maka, 
entah suka atau duka yang kau alami saat ini sebagai sebuah pahala dalam kehidupanmu kini untuk setiap karma atau kerja dari pikiran, kata2 dan perilakumu saat ini.

Dan kau kini sejatinya sedang menyusun skenario takdir masa depanmu sendiri untuk diwujudkan menjadi kenyataan di kehidupan masa depan oleh sang sutradara Agung dan karena karma adalah pilihanmu sendiri, tentu saja bisa mengubah pilihan karmamu, namun kau tidak bisa mengubah pahala dari karma itu.

 Namun pahala atas karma itu disebutkan hanya bisa kau ubah dalam tingkat rasa;

  • Makin ikhlas engkau menerima pahala karma buruk, maka akan semakin ringan rasa penderitaannya.
  • Makin keras menolak rasa itu, maka akan semakin berat beban rasa pahala buruk itu di batinmu
Juga demikianlah dengan pahala atas kebaikan itu;
Semakin mudah kau mensyukuri setiap pahala baik dalam hidupmu ini, maka akan makin mudah kau merasakan kebahagiaan, kedamaian dalam hidup ini;
Karena keikhlasan menerima pahala buruk dan rasa syukur untuk setiap pahala baik, disitulah jiwamu damai dalam kehidupan kini dan yang akan datang.

Demikianlah dapat dicopas dari berbagai sumber, beberapa penggunaan tabia (cabe) dalam makna upacara yadnya.

  • Tabia bun – tabia ranti, jebunggarum- purus.
  • NASI BANGKAL, Madasar antuk ceper medaging nasi medaging bawang jahe matusuk 2, cekuh 2 tusuk, tabia cenik 2,n yuh ahiyisan kacang botor anggen matan nyane.

***