Aja Were

Kecerdikan

Kecerdikan adalah kemampuan seseorang untuk dapat menggunakan dan mengendalikan akal pikirannya.

Berasal dari kata "Cerdik", dimana pada zaman dahulu dalam Asta Brata disebutkan : 

Wicak Saneng Naya;

Artinya :
Hendaknya manusia cerdik menggunakan pikiran.

Manusia yang berbudhi mnggunakan akal pikiran, 

Ketika tanpa logika, disebutkan sia-sialah ia lahir karena berkatNya sebagai manusia tidak digunakan secara baik.

Ibaratnya, 

Dia yang menggempur musuh, tanpa mengetahui kekuatannya pasti hancur, seperti laron menyerbu api. 

Dalam tradisi-tradisi di Bali kecerdikan dengan mengasah otak ini biasanya di visualisasikan dalam berbagai bentuk seperti halnya :

  • Dalam permainan tradisional “Goak Maling taluh” merupakan permainan yang biasanya digunakan untuk mengasah kecerdikan anak yang terbentuk dari hasil transformasi cerita rakyat tentang burung gagak yang mempunyai dua perangai rwa bhineda, yakni baik dan buruk. 
  • Dalam satua I Lutung ;
  • Terkadang mereka sangat cerdik menyembunyikan maksud tujuannya, bermuka manis berbaik sikap dan penuh keramahan.
Diceritakan pada suatu hari tersebutlah ada seekor tikus dengan kecerdikannya yang mampu membunuh seekor Singa yang perkasa di tengah hutan belantara .
 
Di sebuah hutan, hiduplah seekor singa yang sangat kuat dan sudah biasa membunuh binatang lain tanpa pandang bulu. 

Penghuni hutan jadi cemas, resah dan gelisah.

Karena lambat atau cepat semua penghuni hutan akan dijadikan mangsa oleh si raja Singa yang bengis itu.. 

Suatu ketika dalam keadaan yang sudah semakin mencekam, Si tikus kecil itu memberanikan dirinya untuk menghadap kepada sang raja singa. 

"Baiklah, " katanya datar.. 

Hari ini aku menyerahkan diriku tuanku, aku memang kecil untuk tuan santap, hamba sudah paham kalau tubuh hamba ini tidak mungkin bisa mencukupi isi perut tuan yang begitu lapar.. 

Karena itu juga hamba tidak datang sendirian.. Hamba datang berlima. 
Namun Ditengah jalan, tiba tiba muncul seekor Singa besar dari dalam goa dan berkata, "hai kau tikus, kemana kamu pergi?" tikus mulai mengarang cerita..

Tuan, kami semua sedang pergi untuk menghadap tuan kami,

Singa yang menakutkan itu berkata, "siapakah tuanmu itu???!! Akulah penguasa hutan ini!! Kamu semestinya menyerahkan dirimu hanya untukku. 

Raja yang lain adalah penipu. 

Teman teman kalian akan aku sendera, dan kau pergilah kepada tuanmu untuk menyampaikan tantangan ku kepadanya untuk mengadu kekuatan. 

Siapa yang keluar sebagai pemenang, dialah yang berhak menjadi raja hutan ini dan memakan semua tikus ini.

Setelah berhenti sejenak, Si Tikus melanjutkan, "aku telah datang kemari sesuai dengan perintah Singa besar yang kokoh kuat itu. Kini terserah kepada mu". 

Raja singa kelihatannya tersinggung sekali dengan ucapan si tikus. 
Harga dirinya seperti di robek robek oleh Singa yang lain.

"Baiklah kalau begitu, antarkanlah aku segera ke tempat Singa itu. Aku akan tunjukkan diriku, bahwa akulah yang paling kuat dan paling berkuasa di hutan ini. 

"Benar sekali ucapan tuan, "kata tikus itu. 
"Tetapi aku telah melihatnya, dia sangat kuat. 
Tentu tidak bijaksana kalau tuanku mendekatinya tanpa mengetahui kekuatannya yang sesungguhnya, seperti disebutkan : dia yang menggempur musuh, tanpa mengetahui kekuatannya pasti hancur, seperti laron menyerbu api".

"Itu bukan urusanmu," kata raja singa, "yang pokok, pertemukan aku dengan dia". 

Baiklah kalau demikian, 
ikutilah aku "kata tikus itu. tikus itu berjalan di depan, menuntun Singa itu ke sumur. 

Di tepi sumur, Tikus itu berkata kepada Singa, "
Yang mulia!! Tak satupun berani berhadapan dengan keperkasaanmu. 

Penipu itu telah melihatmu datang dan telah menyembunyikan dirinya di dalam benteng yang kuat" . 

Dan Tikus itu pun menunjukkan sumur itu.  

Raja singa itu kemudian melihat bayangannya sendiri di dalam air sumur dan membayangkan bahwa itu adalah musuh nya. 

Kemudian ia mengaum keras dan tentu saja aumannya itu bergema dua kali dalam sumur. 

Raja singa mengira, musuhnya menantang dirinya. Marah terhadap musuhnya itu, meloncatlah singa itu dengan garangnya ke dalam sumur. 

Akhirnya si raja hutan itupun terjerembab dan tenggelam. 
Si Tikus kemudian kembali ke tengah hutan, binatang binatang yang lain pun memuji perbuatan tikus itu dan sesudah itu merekapun hidup aman, damai dan Sentosa.

Demikianlah hendaknya manusia cerdik menggunakan pikiran.

Namun bila kecerdikan yang lebih besar dari kebijaksanaan, maka kecerdikan akal manusia bisa melakukan sesuatu yang jauh dari kebijaksanaan.

Seperti yang tersirat dalam filosofi tikus kecil sebagai wahana Dewa Ganesha;
Dan hendaknya manusia juga memiliki pikiran yang diterangi cahaya kebijaksanaan, sehingga mampu mengendalikan kecerdikan akalnya.

***