Aja Were

Goak

Goak adalah gagak dalam bahasa Balinya,
  • Dalam Pupuh Ginada dikatakan :
    • “Care goak ngadanin dewek”, 
    • Seperti burung gagak yang bersuara untuk “menamai dirinya”.
  • Pahatan karang goak yaitu pepalihan manuk dewata yang berbentuk wajah burung gagak dimaknai sebagai petunjuk bahwa pepalihan ini menggambarkan habitat hidup bangsa burung yang memiliki sayap dan mampu terbang menjelajahi dunia ini.
Di Bali, permainan tradisional “Goak Maling taluh” merupakan permainan yang biasanya digunakan untuk mengasah kecerdikan anak yang terbentuk dari hasil transformasi cerita rakyat tentang burung gagak yang mempunyai dua perangai rwa bhineda, yakni baik dan buruk. Dimana dalam cuplikan film dokumenter disebutkan :
  • Dari segi baiknya burung gagak adalah burung yang cerdik dan suka menolong, 
  • Dari segi buruknya burung gagak memiliki sifat yang serakah dan suka mencuri telur-telur unggas lain. 
Menurut kepercayaan orang Bali, burung yang memiliki warna bulu hitam dan bersuara serak itu, bermakna sebagai pertanda kematian. kecerdasan, kemahiran dan keterampilan yang ditonjolkan dalam permainan ini,setiap pemain juga harus dapat melatih emosinya.

Dalam salah satu lontar kepemimpinan Nitipraya disebutkan :
Filosofi burung gagak mengajarkan bahwa sebagai seorang pemimpin tidak boleh berbuat sewenang-wenang.
Lebih lanjut disebutkan bahwa :
Sifat-sifat gagak lainnya yang perlu ditiru oleh seorang pemimpin adalah mengetahui rakyat yang sengsara dan menderita kelaparan, tidak tanggung-tanggung dalam memberikan derma, melindungi yang kalah dan memberikan hadiah kepada tentara yang sanggup menguasai daerah musuh, tidak mengurangi hak orang lain karena jika ketahuan akan sangat nista bagi orang itu, bersikap halus terhadap penduduk daerah jajahan, tidak meminta milik pasukan meskipun itu lebih baik dari milikmu, bisa menghargai kelebihan orang lain, memperhatikan sang pendeta/orang suci, memberikan dana punia, dan memberikan kesenangan hati orang lain dengan ucapan yang manis dll.
 ***