Aja Were

Musafir

Musafir adalah para peziarah yang melakukan perjalanan suci jauh bahkan sampai lintas benua.

Pada zaman dahulu diceritakan sekitar tahun 50 Masehi, seorang musafir bangsa Yunani (Greek) bernama Yambulos pernah datang berkunjung ke Bali kira-kira pada tahun 50 sesudah Masehi. 
Dan banyak tantangan dan kenangan indah mewanai perjalanan ini.
Ia mengisahkan tentang perjalanannya itu sebagai berikut:

Sebagaimana ditulis sejarah Bali bagian 4 dalam catatannya disebutkan mula-mula ia beserta dengan beberapa orang kawan-kawannya meninggalkan negerinya berlayar, ingin mengetahui keadaan negeri asing. 
Akan tetapi malang baginya, ditengah-tengah perjalanannya perahunya tiba-tiba ditimpa oleh angin taufan. 
Beberapa hari lamanya tinggal terombang-ambing kehilangan pedoman ditengah lautan, akhirnya perahunya terdampar dipantai Benoa Afrika. 

Mereka dapat ditawan oleh perampok-perampok bangsa Ethiopia, sesudah perbekalannya habis dirampas barulah mereka dibebaskan pulang kembali ketanah airnya.

Kecelakaan yang dialami oleh mereka itu, ternyata tiada dapat mematahkan semangatnya, didorong oleh hasratnya yang keras hendak mengetahui keadaan dunia luar. Oleh karena itu mereka bersiap-siap lagi hendak melanjutkan perjalanannya itu. 
Susudah selesai mengatur segala persiapan yang diperlukan, maka mereka bertolak lagi meninggalkan negerinya.

Perjalanannya itu menuju arah ketimur, akhirnya mereka tiba dikepulauan Indonesia. Oleh angin kencang yang datang dengan tiba-tiba melanggar perahunya itu, maka mereka terdampar lagi dipantai Pulau Bali. 

Yambulos mengatakan, bahwa setelah tiba di Bali, ia dengan kawan-kawannya itu disambut oleh penduduk disana secara ramah-tamah.

Mereka lebih dahulu diantar keistana, guna menghadap kepada raja yang berkuasa di Bali waktu itu. 

Sayang mereka tidak menerangkan siapa nama raja tersebut dan dimana letaknya istana raja yang dikunjungi itu. 

Oleh keindahan alam pulau itu, Yambulos beserta dengan kawan-kawannya itu sampai 7 tahun lamanya tinggal merantau di Pulau Bali. Pengalamannya selama di Bali, Yambulos menceriterakan keadaan disitu sebagai berikut:

Raja yang berkenan menerima kedatangannya itu, ternyata amat baik budinya, keramah tamahannya menerima tamu orang asing, menunjukkan bahwa raja itu sesudah mempunyai pengetahuan tinggi. 

Peradaban dan susunan masyarakat di Bali, ia menerangkan sudah teratur baik. Rakyat amat cinta dan setia kepada rajanya, hukum adat menjadi pegangan penduduk didalam pergaulan. Mereka kebanyakan sudah mendapat didikan ilmu pengetahuan, kepandaian membaca dan menulis sudah dimiliki oleh mereka itu. 

Sumber mata air yang terdapat disana-sini, menyebabkan pulau Bali subur dan makmur. Pohon-pohonan disitu berbuah lebat sepanjang masa, penduduk tiada pernah menderita lantaran kekurangan makanan. 

Yang menjadi pokok penghidupan mereka untuk makannya tiap-tiap hari, ialah biji tumbuh-tumbuhan yang batangnya menyerupai pohon tebu atau jagung katanya. Biji tumbuh-tumbuhan itulah yang biasa direbus oleh mereka dengan air panas, kemudian sesudah mekar sebesar telur burung dara, lalu dimakan berkepal-kepal agaknya selaku jajan. 

Mereka makan juga sayur-sayuran, daging ular besar-besar dan daging binatang kecil-kecil sebangsa jengkerik dan belalang, adalah menjadi kegemaran mereka untuk makanannya tiap-tiap hari. Sejenis tumbuh-tumbuhan juga yang biji buahnya menghasilkan benang, ditanam mereka pada tiap-tiap rumah tangga. 

Benang itu lalu ditenun oleh kaum wanitanya sehingga menjadi kain untuk pakaian mereka. Warna yang digemari oleh mereka itu, ialah ungu atau merah tua. Sebangsa daun-daunan dapat dipergunakan untuk membuat warna-warna itu. Kain yang sudah selesai ditenun lalu dicelup dengan bahan-bahan itu, sehingga mereka memperoleh warna yang dikehendakinya.Sejenis pohon-pohonan terdapat juga di Bali, yang buahnya dapat dipergunakan minyak, sesudah diparut dan diperas. 
Kecuali dipakai minyak, buah pohon-pohonan itu dapat juga dipergunakan untuk minuman keras, yang dapat disamakan dengan anggur. Minuman itu amat digemari oleh penduduk laki-laki.

Keadaan penduduk Yambulos mengatakan kebanyakan tinggi besar tubuhnya, rata-rata lebih dari 4 el panjangnya. Tampaknya mereka agak bungkuk, tetapi uratnya yang besar-besar membelit lengannya, menyatakan akan kekuatan tenaganya. 

Jikalau mereka membulatkan kepalannya, serasa tak ada orang yang sanggup membuka tinjunya. Kulit mereka kelihatan bersih-bersih, lantaran jarang ditumbuhi oleh bulu-bulu. Mereka jarang ditimpa penyakit, oleh karena itu umur mereka rata-rata lebih dari seratus tahun.

Tentang kepercayaan penduduk, Yambulos mengatakan, bahwa mereka selalu menyembah Dewa-dewa yang disangkanya berkahyangan diatas Sorga. 

Diantara dewa-dewa itu, ialah Dewa Matahari yang paling dimuliakan, dipuja-puja oleh mereka tiap-tiap hari. Sambil membakar kemenyan dan bau-bauan yang harum mereka mengucapkan mentera-mentera untuk memuja Dewa Matahari itu.

Akan tetapi diantaranya terdapat juga penduduk yang memuliakan Dewa Brahma dan Wisnu, sehingga Yambulos memperoleh keyakinan, bahwa kepercayaan mereka sudah dipengaruhi oleh perkembangan Hinduisme. 

Berkenaan dengan susunan masyarakat yang sudah teratur dikatakannya itu, Yambulos melanjutkan keterangannya, bahwa di Bali pada waktu itu sudah terdapat ahli pertukangan kesenian (undagi), begitu juga orang-orang berdagang didalam pasar. 
Akan tetapi perdagangan itu mereka lakukan secara tukar menukar barang-barang, mereka belum mengenal alat-alat pembayaran untuk melancarkan perdagangannya itu.

Golongan pahlawan-pahlawan perang dipandang paling tinggi derajatnya. Sedang golongan nelayan dan pemburu mereka pandang lebih rendah tingkatannya. Rakyat jelata kebanyakan bertani mengusahakan sawah ladang untuk bercocok tanam. Mereka tinggal berkampung-kampung, dibawah pimpinan seorang kepalanya yang mengenal adat istiadat, persatuan kampung itu merupakan sebuah desa yang diperintah oleh seorang kepala desa yang berkewajiban menjalankan hukum adat itu. 
Sabda raja dipandang sebagai Undang-undang, yang harus ditaati oleh semua penduduk.

Sekianlah keterangan Yambulos yang terdapat didalam buku catatannya, menggambarkan keadaan di Bali selama kunjungannya itu. 

Dari keterangan-keterangannya itu, dapatlah diambil kesimpulan, bahwa di Bali pada waktu itu sudah terdapat sebuah kerajaan dengan pemerintahannya teratur baik. Sedang jenis tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan yang diterangkan olehnya itu, dapatlah dikira-kirakan demikian.

Biji tumbuhan sebangsa tebu atau jagung yang dikatakannya itu, mungkin padi yang dimaksudkan olehnya. Pohon-pohonan yang buahnya dapat dibuat minyak dan minuman keras, tentu pohon kelapa atau pohon enau yang pernah dilihatnya. Biji tumbuh-tumbuhan yang dapat dipergunakan benang itu, mungkin pohon kapas yang dimaksudkannya, sedang daun-daunan yang dapat dipergunakan warna untuk mencelup kain, niscaya tarum atau taum yang menjadi tujuannya.

Tentang kepercayaan penduduk yang diduga olehnya sudah dipengaruhi oleh perkembangan Hinduisme, kiranya tiada patut disangkal kebenarannya. Hal itu akan dapat dibuktikan nanti pada sumber-sumber keterangan dibagian yang lain. *)
***