Aja Were

Ajal

Ajal artinya nafas terakhir menjelang kematian.
Dimana dalam Lontar Kamoksan disebutkan,
Bahwa pahala membaca, mendengarkan, dan mendiskusikan teks-teks / kitab suci ketika ajal tiba akan menemukan sorga dan moksa.
Sesungguhnya dikatakan mempersiapkan masyarakat untuk “menerima” kematian adalah tugas agama dan para praktisi keagamaan. 
Tugas ini sudah lama terlupakan, karena para praktisi keagamaan pun tidak sepenuhnya memahami proses kematian
Ketika jantung berhenti bekerja dan memuncak ketika semua sel (panca maha bhuta) mengalami pembusukan. 
 Walau begitu masalah yang paling penting adalah, apakah yang terjadi pada pikiran seseorang 
    • Apa yang terjadi pada pikiran dan kesadaran manusia saat ajal datang? 
    • Apakah penghentian mendadak ini terjadi secepat berhentinya jantung? 
    • Apakah penghentian aktivitas ini terjadi dalam dua detik pertama atau dua menit pertama?
Dan menurut Swara Hindu Dharma, kematian dikatakan bukanlah akhir dari kehidupan, dengan alasan demikian Hyang Widhi menganjurkan manusia tidak menyesali kematian sebaliknya harus berani menghadapinya dan berupaya mencari jalan pembebasan dari hukum kelahiran dan kematian tersebut (Punarbawa).
Karena tujuan dari umat manusia yang sebenarnya bukan ke Surya, Bumi, Neraka tapi Moksa bebas dari kelahiran dan kematian, menyatu dengan Hyang Widhi, Amor Ring Acintya.
Kematian dalam agama Hindu dianalogikan sepertinya orang mengganti pakaian yang lama artinya tidak layak digantikan dengan pakaian baru, badan jasmani punya batas/masa waktu hidup badan-badan itu dengan sendirinya akan rusak dan sang jiwa akan pindah ke badan yang lain
Vasamsi jirnani yatha vihaya
Navani grhanait naro parani
Tatha sarirani vihaya jirnany
Anyani samyati navani dehi. (BG II-22)
Artinya ;
Seperti halnya orang menanggalkan pakain usang yang telah dipakai dan menggantikanya dengan yang baru.demikian pula halnya jiwatman meninggalkan badan lamanya dan memasuki jasmani yang baru.
Dalam hakekat kehidupan dan kematian oleh seorang praktisi keagamaan Hindu di Bali disebutkan bahwa :
Jika mengetahui Moksha sebagai tujuan hidup, maka sebagai manusia mesti mengenal esensi keberadaan diri.
Manusia ada, karena beliau (Ida Sang Hyang Widhi). 
Kita adalah replika beliau, atma adalah percikan kecil dari Tuhan yang ada pada setiap makhluk hidup. Jadi, kita ada karena beliau,”.
Dan sebagai manusia yang paham bahwa hidup di dunia adalah replika atau percikan kecil dari Tuhan, maka sebagai manusia harus sadar. Sadar sepenuhnya, untuk bisa 'manunggal' (menyatu) kembali dengan Tuhan.
***