Aja Were

Politik

Politik adalah panglima kehidupan untuk dapat mengendalikan, mengontrol, dan mengawasi sistem tindakan yang bertujuan agar dapat menegakkan dharma dalam kekuasaan, lingkungan dan masyarakat;
Sehingga dengan belajar ilmu politik diharapkan pada nantinya dapat menuntun umat manusia untuk dapat mencapai kesejahteraan jasmani dan ketentraman bhatin yaitu disebutkan dengan beberapa cara :
    • Mewartakan Kebenaran (Satya), 
    • Menebarkan Kesucian (Shivam), 
    • Menuju Kebahagiaan (Sundaram)
Dalam kehidupan sehari-hari, penyampaian wacana juga disebutkan berfungsi untuk dapat menyampaikan berbagai informasi tentang sesuatu, membangun ilmu pengetahuan dan kekuasaan seperti dalam Santi Parwa dikatakan bahwa : 
Ketika agama, yadnya dan semua kewajiban manusia terabaikan;
Maka pada politiklah semua dunia terpusatkan.
Diceritakan dalam menentukan peta politik Hindu disebutkan yaitu :
Seorang pewaris tahta kerajaan tidak harus merupakan anak sang raja dan juga tidak harus merupakan anak sulung.
Dalam kisah Mahabharata saat Bisma selaku tetua kerajaan Bharata menetapkan putra mahkota kerajaan, tidak secara otomatis Drstaratha selaku putra sulung akhirnya terpilih. 
Putra mahkota malah diberikan kepada adiknya Pandu.
Pandu sendiri bukan merupakan keturunan Bhisma yang merupakan pewaris kerajaan Astina yang paling sah. 
Pemilihan Pandu sebagai penerus tahta ini tentu saja bukan dilakukan secara diktaktor oleh Bhisma, namun melalui serangkaian diskusi yang dilakukan dengan segenap punggawa kerajaan dan juga para guru kerohanian.
Pandu dipilih karena dia lebih memiliki kualifikasi dari pada kakaknya yang terlahir buta serta tidak menguasai ilmu-ilmu kemiliteran dan ketatanegaraan. 
Demikianlah secara ideal seorang pemimpin menurut Hindu harus dipilih dari sekian banyak pilihan orang-orang yang berkualifikasi. 
Pemilihannya pun tidak dilakukan oleh semua orang dengan bobot suara yang sama, tetapi dilakukan oleh punggawa dan guru-guru spiritual kerajaan dengan tetap menampung aspirasi dari rakyat jelata.
Dalam tataran pemerintahan terkecil yang masih hidup sampai saat ini di Bali, yaitu sistem “Banjar” dapat kita temukan sistem pemilihan pemimpin yang agak berbeda dengan sistem monarki. 
Tentu saja hal ini terjadi akibat dalam sistem banjar tidak ada yang namanya “wangsa” atau keluarga kerajaan. 
Secara garis besar sistem Banjar tampak serupa dengan sistem demokrasi modern. Pemimpin dan pengurus banjar dipilih berdasarkan suara terbanyak anggota Banjar yang biasanya satu keluarga diwakili oleh satu suara. 
Tetapi, yang tampak sangat berbeda adalah adanya peran orang suci seperti pemangku dan juga pedanda yang didudukkan pada tempat tertinggi oleh segenap warga Banjar. 
Orang-orang suci ini dapat memberikan wejangan dan arahan yang bahkan sama kuatnya dengan suara seluruh warga Banjar.
Dalil-dalil yang mendasari sistem politik atau kepemimpinan Hindu menyebar di banyak sloka-sloka Veda. 
Namun demikian, terdapat beberapa bagian Veda yang mengkhususkan pembahasan mengenai sistem pemerintahan ini.
Dalam era globalisasi & dinamika perkembangan dunia politik sebagaimana disebutkan seperti :
  • Terkadang pencitraan seorang tokoh politik juga tidak lepas dari “iklan”. Meskipun seorang tokoh tidak memiliki kualifikasi memadai dan memiliki background yang buruk, tetapi jika media mendukungnya dan mencitrakannya sebagai sosok yang superior, maka rakyat akan percaya bahwa dia adalah tokoh politik yang diidam-idamkan rakyat banyak.
  • Menjalankan tugas Prithivi Bhakti sebagai patriotik dan kewajiban sebagai warga Negara yang baik, pola membangun Negara yang kuat, ideologi dan politik serta semangat dalam membangun Negara.
***