Aja Were

Terorisme

Terorisme adalah sebuah paham yang selalu menghasut orang untuk melakukan tindakan kekerasan sebagai wujud dari prilaku tidak baik asubhakarma yang selalu cenderung mengarah kepada kejahatan.
Dan nantinya setelah kematian, disebutkan bahwa mereka yang menghasut & melakukan kekerasan ini juga akan mendapatkan hukuman di neraka berupa penyiksaan di Kawah Candra Gomuka bagi atma yang semasa hidupnya selalu berbuat asubha karma ini.
Dimana ketika nantinya mulai memasuki lapisan alam negatif Talatala dalam Sapta Petala di neraka disebutkan bahwa :
Sang jiwa akan lahir di alam ini karena dalam hidupnya dia melakukan, menghasut, mengatur, memanipulasi atau mengorganisir kebencian pada orang lain (melalui orasi, ideologi, ajaran spiritual, dll) yang berujung pada terjadinya aksi kekerasan fisik fatal kepada sekelompok orang.
Sang jiwa di alam ini mulai merasakan kesengsaraan mental yang mendalam, akibat proyeksi mental-energi yang tidak terhingga di alam ini.
Dan atman atau roh orang yang bunuh diri juga disebutkan akan memasuki alam gelap atau Asurya Lokadan tak tanggung-tanggung, roh mereka akan dihukum di sini selama puluhan ribu tahun.
Dalam sebuah analisis paradigmatik konsep ahimsa terhadap terorisme disebutkan pula bahwa :
Ahimsa sebagai konsep anti kekerasan atau nir-kekerasan yang merupakan pijakan dasar dalam mencari suatu kebenaran, karena kata ahimsa sendiri sejatinya secara etimologi berarti tidak menyakiti, tidak melukai atau berpikir ingin melukai makhluk apapun.
Dan sebagai umat beragama pada dasarnya kita telah diajarkan tentang aspek etika atau tata susila yang dapat mengatur moralitas dalam beraktifitas maupun bertindak.
Pada sisi etika inilah yang nantinya akan dipertanyakan dan dianalisis lebih mendalam tentang bagaimana seorang umat itu dapat mengaplikasikan unsur etika yang dianutnya.
Dalam hal ini, Hindu berasumsi bahwa tingkah laku atau tata susila itu merupakan peraturan tingkah laku yang baik dan mulia yang harus dijadikan pedoman hidup manusia. 
  • Tujuan tata susila adalah untuk membina perhubungan yang selaras atau perhubungan yang rukun antara seseorang (jiwatma) dengan makhluk yang hidup disekitarnya. 
  • Dengan menitik beratakan pada hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan pada korban suci (Yajna), keikhlasan, dan kasih sayang.
Pola hubungan tersebut adalah berprinsip Hindu pada ajaran Tat Twam Asi (Ia adalah engkau), bermakna bahwa semua makhluk hidup sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. 
Oleh karena itu, patut nantinya untuk dikaji lebih mendalam mengenai pandangan etika Hindu, khususnya konsep ahimsa terhadap terorisme saat ini.
***