Aja Were

Pancering Jagat

Pancering Jagat (dalam pengertian masyakarat Desa Trunyan Bali) berarti Pusar Dunia.

Dalam mengenal Desa Trunyan, desa tertua di Bali dalam liputan SINDONEWS.com disebutkan di daerah tersebut terdapat sebuah pura yang di dalamnya berdiri sebuah arca / patung yang disebut Ratu Gede Pusering Jagat. 
Masyarakat setempat, percaya akan ukuran patung yang sedikit demi sedikit bertambah besar. Patung tersebut hanya bisa dilihat untuk umum setahun sekali, tepatnya pada saat upacara yang diadakan saat bulan purnama (sasih kapat) sekira bulan Oktober setiap tahunnya.
Dalam jejak megalitikum di Bali, disebutkan Arca tersebut bernama Da Tonta sebagai perwujudan dewa tertinggi Desa Trunyan yaitu Ratu Sakti Pancering Jagat.

Diceritakan, pada zaman dahulu di daerah tersebut ada sebuah pohon Taru Menyan yang menebarkan bau sangat harum. 
Bau harum itulah dahulu mendorong Ratu Gede Pancering Jagat untuk mendatangi sumber bau dan Beliau pun bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit di sekitar pohon-pohon hutan cemara Landung.
Taru menyan itulah disebutkan dahulu yang telah berubah menjadi seorang dewi yang bernama Ratu Ayu Dalem Pingit Dasar dan Beliaupun akhirnya diperistri oleh Ida Ratu Pancering Jagat.

Sebagai leluhur masyarakat Trunyan, Ratu Sakti Pancering Jagat dengan istrinya Ratu Ayu Dalem Pingit Dasar dalam kesenian setempat kini diwujudkan dalam bentuk tarian Barong Brutuk yang dipercaya membawa keselamatan dan berkah bagi penduduk Desa Trunyan.
***