Sisia

Sisia (Sisya) adalah para murid sebagai calon pendeta (sulinggih) yang hendak menerjunkan diri dalam hidup keagamaan sebagai “parasraya”. Oleh karena itu, dalam Lontar Silakramaning Aguron - Guron dalam alih aksara dan bahasa lontar, diuraikan mengenai beberapa hal penting yang patut dijadikan pedoman oleh seorang calon pendeta, diantaranya yaitu: 
  • Seorang sisia harus bhakti kepada guru,  
  • Sisia harus selalu berpegang teguh pada dharma dan kebenaran, 
  • tidak boleh iri hati, 
  • tidak boleh menyihir, 
  • tidak boleh menjalankan ilmu hitam, 
  • Seorang sisia harus selalu dalam keadaaan suci lahir dan bathin, di dalam menuntut ilmu seorang sisia harus selektif dalam mencari guru, upayakan pengendalian indria dan arahkan pada yang baik untuk membebaskan diri dari belenggu indria.
  • dll.
Seorang guru juga disebutkan dalam sistem operasi, ajaran karmaphala dalam cerita Tantri Carita (Nandaka Harana), juga agar berhati-hati memilih calon murid/sisya dan hendaknya pula para murid agar tetap mematuhi pesan gurunya,

Dikisahkan bahwa Batur Taskara ini sebelumnya merupakan seorang yang jahat, 
pekerjaannya selalu mencuri, sehingga masyarakat menjadi resah oleh perbuatan itu. Setelah diketahui perbuatan Batur Taskara ini oleh raja, maka diperintahlah para prajurit untuk menangkapnya. 
Batur Taskara memang seorang yang licik. Begitu dengan didengarnya bahwa dirinya akan ditangkap, ia melarikan diri ke tengah hutan.
Sampai di hutan bertemulah ia dengan seorang pendeta dan Batur Taskara akhirnya diangkat sebagai murid. 
Sejak saat itu Batur Taskara tekun mendalami ilmu kerohanian dan berhasil ia mencapai kesadaran tertinggi. Ia mendapatkan wahyu agar jangan pulang keasalnya bila sasih karo karena apabila dilanggar akan berakibat celaka pada dirinya. 
Memang sudah kehendak Tuhan bahwa Batur Taskara ini harus menikmati karma phala kejahatannya di dunia ini, maka dilanggarnyalah pesan/wahyu yang diperolehnya itu. Sabda itu menjadi kenyataan dan terbukti.
Batur Taskara di tengah perjalanan mengalami nasib tragis. Ia bertemu dengan pasukan kerajaan yang sedang mencari kambing sang raja yang hilang. 
Maka ditanyailah Batur Taskara, “ apakah kamu melihat kambing di sekitar sini?”. 
Dan Batur Taskara pun menjawab “Tidak.”. 
Pada saat demikian, tiba-tiba terlihat kambing di dekatnya, maka di bunuhlah Batur Taskara walaupun telah dapat merubah dirinya ia tetap harus memetik phala dari kejahatan yang telah dilakukannya.

Di dalam cerita Batur Taskara ini juga mengandung suatu makna lain. Cerita Batur Taskara ini merupakan petunjuk bagi seorang pendeta agar berhati-hati memilih calon murid/sisya.
***