Pasek Gaduh

Pasek Gaduh merupakan keturunan dari Mpu Wiradangka yang salah satu putranya dalam Babad Pasek Gaduh disebutkan bernama De Pasek Lurah Gaduh sedangkan Mpu Wiradangka sendiri merupakan keturunan dari Mpu Dangka.

Diceritrakan sekarang De Pasek Lurah Gaduh, berputra 4 orang, yaitu : 
  • Pasek Gaduh Abang, 
  • Pasek Gaduh Pucangan di Bangli, 
  • Pasek Gaduh Blahbatuh dan 
  • Pasek Gaduh Watugiling. 
Kembali diceritakan keberadaan Ki Pasek di Abang, berputra 5 orang, 
  • Ki Pasek Gaduh Mranggi Kesiman, 
  • Ki Pasek Gaduh Kayubihi, 
  • Ki Pasek Gaduh Panyaringan, 
  • Ki Pasek Gaduh Panarukan, 
  • Ki Pasek Gaduh Les.
Ceritrakan kembali Ki Pasek Gaduh Blahbatuh, banyak putra-putranya, yang ada menetap di Bali, yaitu : 
  • Pasek Gaduh Sesetan, 
  • Pasek Gaduh Abianbase, 
  • Pasek Gaduh Tibubiyu,
  • Pasek Gaduh di Baluk, 
  • Pasek Gaduh Kaba-Kaba, 
  • Pasek Gaduh Buduk, 
  • Pasek Gaduh Dalung, 
  • Pasek Gaduh Senganan, 
  • Pasek Gaduh Slingsing, 
  • Pasek Gaduh Njung Nwa, 
  • Pasek Gaduh Antap, 
  • Pasek Gaduh Dawuhwaru, 
  • Pasek Gaduh Petak, 
  • Pasek Gaduh Tejakula
  • Pasek Gaduh Banjarasem, 
  • Pasek Gaduh Tukadaya, 
  • Pasek Gaduh Palapwan, 
  • dan yang lainnya.
Mereka itu semuanya keturunan dari Panca Tirtha, bijaksana, kata-katanya bermana, setiap hari membicarakan masalah kepemimpinan, lahir bathin, tiada orang berani membantahnya. 

Hana pesan dari Mpu Ketek, kepada keturunannya semua, apakah itu : Dengarkanlah dengan baik anugrahku padamu semuanya, 
  • jika ada keturunanaku, memahami tentang sastra utama dan telah mendalaminya. 
  • Jika demikian wajiblah engkau menyucikan diri, dan dapat menyucikan seluruh keluargamu kelak jika meninggal, yang telah madwijati, jika melakukan pengabenan, patutlah menggunakan Padmasana dan jempana, busana/pakaian bagaikan seorang pendeta yang meninggal, kainnya putih dan kuning, kajang tiga kuwub, klasa tiga rirang, tulisan aksara kajang Pancagni dalam padma, patulangannya lembu putih. 
  • Dan jika tidak madwijati dan telah mencapai kedudukan, jika pada waktu ngaben, memakai bade tumpang 9, jika walaka biasa, bade tumpang 7, kapas 9 warna, memakai bhoma menghadap kebelakang, bersayap, tatakan alas api berundak 3, memakai bale lunjuk, patulangannya lembu hitam, kajang tiga kuwub, kalasa tiga rirang, surat kajang
  • tri aksara, rwabhineda, dasaksara, pancabhayu, sadhya kerti, dibungkus dengan daun gedang kahikik, dan tirtha pangentas dari Kawitan, bagaikan air suci dari Hyang Abra Sinuhun, cuntakanya 3 hari, anakku boleh membangun Kahyangan Kawitan di rumah masing-masing, sepatutnya Meru tumpang 3, sebagai lambang Purusa, Mas Sari 1, Hyang Ibu Kawitan, lambang Pradhana, Ngurah Bhumi 1, Taksu 1
Demikianlah hak kewajibanmu. Dan jika ada orang yang menyatakan bersaudara denganmu, seketurunan denganmu, dengan tujuan untuk menyembah Kawitan, janganlah tergesa-gesa, walaupun orang pandai, kaya, selidikilah terlebih dahulu, dan jika mau menyembah Kawitanmu, benarlah mereka itu wargamu, patutlah mereka ikut memuja Kawitanmu. Wajarlah mereka itu diberi Tunggul Kawitan/Prasasti, yang nantinya ditulis di atas lempengan tembaga, demikianlah prilakumu yang disebut dengan Pasek, yang kelahiran Brahmana jaman dahulu.

Jika mereka sudah berbakti dengan Kawitanmu, yang akan dijumpai, dicintai oleh masyarakat, berkembang, panjang umur, disayangi oleh Dewa, dan janganlah anakku semuanya lupa terhadap Catur Parhyangan, yaitu : Catur Lawa Ratu Pasek, di Besakih, Pura Dasar Bhuwana Gelgel, di Padhang Silayukti dan Lempuyang Madhya; 

Demikianlah pesanku kepada anak-anakku semuanya, demikian sempurna anugrah Mpu Ketek. Hai, engkau para Pasek, 
hendaknya berpegang teguh pada keturunan, dimanapun berada, hendaknya selalu berpegang dan nyiwi Piagem Prasasti Kawitan
***