Segehan Putih Kuning

Sěgěhan kěpěl putih kuning adalah sěgěhan yang berwarna putih dan kuning, beralaskan taledan, dengan lauk bawang merah, jahe, dan garam (Kamiartha, 1992: 58).


Tetandingan Segehan Putih Kuning sebagai berikut :
  • Nasi yang dikepal dan diberi warna putih dan kuning.
  • Di bagian atas dilengkapi dengan porosan atau canang,
  • Di bawahnya dilengkapi dengan lauk bawang merah, garam, dan jahe.

Makna Segehan Putih Kuning
Warna putih dan kuning pada sěgěhan itu mengandung makna kesucian dan kebijaksanaan. Umumnya sěgěhan tersebut dipersembahkan kepada para pengikut roh-roh leluhur.

Selain untuk persembahan kepada roh leluhur, sěgěhan putih kuning juga dipersembahkan kepada Tuhan atau manifestasi-Nya yang belum diketahui secara pasti. Masyarakat Hindu di Bali menganggap bahwa sěgěhan tersebut bersifat netral atau
dapat dipersembahkan kapan saja dan dimana saja kepada roh-roh ataupun manifestasi Tuhan yang dianggap suci.
Menurut Sudarsana (2001: 81), sěgěhan putih kuning mengandung makna sebagai simbol kekuatan Bhuta Nareswari yang dapat mempengaruhi jiwa manusia untuk berperilaku malas dan boros. Untuk menetralkan pengaruh itu pada diri seseorang, perlu dibuatkan sěgěhan putih kuning.

Untuk saa mantra segehan putih kuning
dikutip dalam Ritual Segehan Pada Masyarakat Bali (ref
 ***
“Singgih Ratu sesuhunan titiyang,
Raja Dewata-Dewati leluhur sareng sami,
titiyang ngaturang sěgěhan putih kuning,
mangda lédang amuktisari sareng sami,
riwus amuktisari,
ledang I Ratu mapaica kesidian,
mangda lédang nuntun titiyang sekeluarga,
ngrereh sandang pangan kinum muah artha brana,
mangda titiyang nénten kirangan sandang pangan kinum lan artha brana,
asapunika pinunas titiyang,
antuk kekiranganipun titiyang nunas pangampura”.
 ***
Demikian pengertian, tetandingan, dan saa dari mantra segehan putih kuning.

Daftar Bacaan Terlengkap & Terpopuler di Bali