Aja Were

Kandang

Kandang dalam filosofi perayaan tumpek kandang juga mengandung makna mengandangkan pikiran yang begitu liar; 
Dimana dalam Hindu Dharma (ref) sebagaimana disebutkan diibaratkan seperti hewan dan harus dikendalikan sehingga mampu membatasi atau mengekang keinginan yang bersifat seperti binatang,

Misalnya seperti hidup tanpa tata krama, liar, malas dsb.
Kalau dilihat dari Urip Saniscara Kliwon Uye, berjumlah 7 dan itu dianggap sebagai hari yang berwatak rajas, yang disejajarkan dengan watak Sato ( binatang)
Saniscara 9 + Kliwon 8 + Uye 8 = 25 dan apa bila kita jumlahkan
2 + 5 = 7.

Untuk itu pada hari Tumpek kandang kita perlu menyucikan diri, untuk nyomia atau menetralisir kekuatan binatang dalam diri kita, karena daging dari hewan yang kita makan akan bersemayam pada tubuh manusia dan akan membawa pengaruh pada tabiat, sifat dan karakter manusia.

Saniscara Uye merupakan Tumpek Kandang untuk mengupacarai semua jenis binatang besar, ternak maupun binatang lainya.
Upacaranya untuk sapi, kerbau, gajah dan binatang besar lainnya.
(Sumber; Sundarigama)

Pada Tumpek kandang umat menghaturkan persembahan pada Sang Hyang Rare Angon sebagai manifestasi dari Dewa Siwa yang berfungsi sebagai penguasa dan penjaga semua binatang. Dengan tujuan untuk diberikan keselamatan pada semua hewan peliharaan dan ternak agar bisa bermanfaat dan hasilnya melimpah dan sesuai dengan harapan dari pemiliknya.

Dengan menghaturkan persembahan itu maka manusia juga berharap agar tidak menjadi tulah hidup, karena hanya menikmati saja tanpa persembahan.

Berbuatlah agar semua orang, binatang - binatang dan semua mahluk hidup berbahagia.
(Yajurveda XVI.48)
***