Aja Were

Kemenangan

Kemenangan adalah mereka yang berjuang di jalur keberhasilan;
Dan berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki.
Dengan doa yang dipanjatkan seperti halnya sebelum memulai sebuah pertandingan sejatinya diucapkan bertujuan untuk dapat mengalahkan rasa takut, keengganan, keangkuhan, dan semua beban yang menghambat dalam diri.
Namun hambatan-hambatan untuk mencapai kemenangan itu pasti selalu ada yang utamanya disebutkan berasal dari diri sendiri.
Ibaratnya,
Seorang pelari yang berlari untuk mengalahkan pelari yang lain, akan tertinggal karena sibuk mengintip laju lawan-lawannya.
Karena keinginan untuk mengalahkan orang lain adalah awal dari kekalahan itu sendiri.
Bangga atas prestasi itu wajar saja,
tetapi dikatakan jangan sampai membuat diri sendiri menjadi sombong maupun angkuh akan prestasi tersebut.
Ingatlah, selalu ada yang lebih pintar dari kita. dan kita juga masih perlu belajar dari kelebihan orang lain. 
Jangan takut gagal, karena kegagalan sejatinya dapat membuat kita semakin kuat dan tangguh.
Sehingga sebagai sebuah motivasi, dikatakan bahwa bagaimanapun tetaplah berjuang untuk menjadi seorang pemenang.

Dan untuk menjadi seorang pemenang terkadang disebut mereka yang bermental baja dan selalu befikir positif, bahkan tetap bersyukur di saat masalah dan keadaan yang benar-benar sulit tengah menghimpitnya. 
Mengapa demikian?
Karena orang yang seperti itu selalu menganggap bahwa “masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya untuk menjadi lebih baik”. 
Sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah lebih dulu diproses dan dibentuk dengan palu. 
Setiap pukulan memang menyakitkan, namun mereka yang bermental baja selalu menyadari bahwa itu baik untuk dirinya. 
Jika hari ini kita sedang ditindas oleh masalah hidup, jangan pernah merespons dengan sikap yang keliru! 
Jika kita adalah ‘baja”,
kita akan selalu melihat palu yang menghantam kita sebagai sahabat yang akan membentuk kita. 
Namun sebaliknya jika kita adalah ‘kaca” maka kita akan selalu melihat palu sebagai musuh yang akan menghancurkan kita.
Demikian pula halnya sebagai cerminan dalam memaknai perayaan kemenangan dharma melawan adharma pada saat hari raya galungan yang bertujuan untuk dapat menyatukan kekuatan rohani agar kita mendapat pendirian serta pikiran yang terang.
***