Aja Were

Kumba Karna

Kumba Karna (Kumbakarna) adalah seorang raksasa yang menyeramkan namun memiliki rasa nasionalisme teritoris yang tinggi terhadap negaranya.
Right or wrong, it’s my country;
Seperti dikutip dari cerita rakyat Pulau Dewata ketika Kumbakarna & Wibisana berbicara tentang sebuah pilihan dalam berperang.
Dalam kisah Ramayana, Beliau merupakan adik dari Rahwana yang dalam Utara Kanda disebutkan bahwa pada zaman dahulu Kumbakarna pernah memohon anugerah kepada Dewa Brahma agar selama hidupnya selalu senang.
Namun karena salah ucap dalam tapanya, akhirnya Beliau dianugerahi selalu tertidur.

Patung Kumbakarna Laga
Sebuah patung yang menggambarkan raksasa mengerikan yang dikeroyok pasukan kera ini dinamakan Kumbakarna Laga.

Diceritakan tatkala itu, raksasa Kumbakarna dibangunkan dari tidur panjangnya oleh kakaknya Rahwana, dan disuruh untuk menghabisi Rama serta pasukannya yang berniat merebut Sita kembali. 
Namun Kumbakarna yang sifatnya bertentangan dengan kakaknya menyarankan agar mengembalikan Sita untuk mencegah kehancuran terjadi.
Dan Rahwana pun murka dan memaksa Kumbakarna untuk menyerang Rama. 
Kumbakarna menuruti perintah kakaknya namun untuk membela negaranya. 
Dengan gagah berani Kumbakarna maju ke medan perang dan menghabisi banyak pasukan kera. Rama harus turun tangan dan melepaskan panah sakti yang membunuh Kumbakarna seketika. 
Dengan patung ini kita dapat melihat rasa nasionalisme bela negara Kumbakarna, walaupun harus berada di pihak yang salah.
Dalam konteks kehidupan nyata,
kita juga hendaknya harus bijaksana menyaring kata-kata sehingga tidak menimbulkan petaka bagi diri sendiri, orang lain maupun masyarakat secara luas.
  • Wibisana menyayangkan kehadiran kakaknya, yang mau berkorban membela keserakahan Prabu Dasamuka. 
  • Kumbakarna memberitahukan, bahwa kedatangannya disini ingin bukan membela kakaknya Prabu Dasamuka, namun Kumbakarna ingin mempertahankan kemerdekaan negeri Alengkadiraja.
Kumbakarna tidak menginginkan perang tetapi juga tidak menginginkan negerinya di injak injak oleh musuh, Ia tidak ingin negerinya dijajah oleh negara lain. ia tidak akan membunuh siapapun. 
Ia kecewa sudah banyak korban dari Alengka yang tewas. Juga kedua anaknya, Kumba Kumba dan Aswani Kumba telah tewas.Ia hanya menginginkan Prabu Rama dan pasukannya kembali ke Pancawati. Wibisana dimintanya menyingkir, karena Kumbakarna akan segera menemui Prabu Rama,agar mereka segera kembali ke Pancawati.
Kumbakarna memasuki wilayah pertahanan Prabu Rama. Pasukan kera langsung menyerbu Kumbakarna. Lengannya sudah ratusan kera menungganginya, menggigitnya dan mencakarnya, tapi Kumbakarna diam saja. 
Lengan yang satu juga ditunggangi ratusan kera, juga kepala, juga muka, juga leher, juga punggung, juga perut, juga paha, juga kaki. Mereka menggigit, mencakar dan merobek robek kulit Kumbakarna. Dalam waktu sekejap Kumbakarna menjadi gunung kera.
Kumbakarna masih melangkah maju, Prabu Rama mengingatkan jangan maju lagi, namun Kumbakarna tetap melangkah. Prabu Rama pun melepaskan anak panah yang kedua. 
Putuslah bahu kanan Kumbakarna. Lengan kanan Kumbakarna yang dikerubut ratusan kerapun jatuh. Banyak kera yang tewas tergencet lengan kanan Kumbakarna. Kumbakarna terus melangkah. Prabu Rama melepas anak panah yang ketiga dan keempat kearah kedua kaki Kumbakarna.
Kedua kaki Kumbakarna yang dikerubuti ratusan kerapunpun lepas dan jatuh menggencet pula para kera yang mengerubutnya dibawah kakinya.
Tubuh Kumbakarna pun ambruk dan menjatuhi ribuan kera kera yang ada dibawahnya. Kini Kumbakarna tinggal tubuh dan kepalanya saja, yang wajahnya sudah tidak berujud lagi.
Kedua daun Telinga, hidung, mulut, kedua mata, Kumbakarna sudah tanggal semua. 
Kumbakarna menahan sakit, Kumbakarna yang tinggal kepala dan tubuhnya berguling guling kesakitan, dan tanpa sengaja banyak kera yang tewas terlindas oleh tubuh Kumbakarna.
Prabu Rama merasa ngeri dengan keadaan Kumbakarna. Wibisana segera meminta pada Prabu Rama untuk menyempurnakan kematiannya. 
Prabu Rama yang kelima kalinya melepaskan anak panahnya keleher Kumbakarna. Kepala dan gembung Kumbakarna terpisah.Kumbakarna pun gugur. 
Kumbakarna gugur membela tanah airnya, bukan membela keangkara murkaan Prabu Dasamuka.
Kumbakarna disambut harum bunga melati yang turun dari langit. Tubuh Kumbakarna yang semula terpotong potong,dan tercecer dimana mana, tiba tiba menyatu menjadi Kumbakarna yang utuh kembali. 
Kumbakarna bangkit kembali dan hilang dari pandangan mata. 
Rupanya Kumbakarna, moksha. Jiwa dan raga Kumbakarna diterima oleh dewa, dan ditempatkan di Swarga Pangrantunan.
***