Aja Were

Ekalawya

Ekalawya adalah cerminan dari seorang ksatria yang tekun belajar walaupun tanpa guru.
Ia berproses agar menjadi lebih baik dengan ketekunan serta kecermatan tinggi dan menganalisis kesalahannya sendiri sampai akhirnya ia yang otodidak mampu mengalahkan orang yang berpendidikan resmi seperti yang ditulis oleh Istifarwati yang belajar dari Ekawalya.
Dikisahkan seorang keturuan Nisadha,
Dahulu karena bertekad ingin menjadi pemanah terbaik di dunia, lalu ia pergi ke Hastina ingin berguru kepada Bhagawan Drona. Tetapi ditolaknya.
Namun, ia kemudian kembali masuk ke hutan dan mulai belajar sendiri dan membuat patung Drona serta memujanya dan menghormati sebagai seorang murid yang sedang menimba ilmu pada sang guru seperti yang dikisahkan Bambang Ekalaya (Palgunadi) dalam wayang Indonesia.
Berkat kegigihannya dalam berlatih, diceritakan Ekalaya kini telah menjadi seorang prajurit yang gagah dengan kecapakan yang luar biasa dalam ilmu memanah, yang sejajar bahkan lebih pandai daripada Arjuna, murid kesayangan Drona.

Dalam kisah hidupnya dapat dipetik, bahwa keunggulan datangnya dari diri kita sendiri,
Diamanapun kita berada dan menuntut ilmu, asalkan kita sangat serius dan sungguh – sungguh pasti jalan panjang terbuka lebar untuk kita semua.
Dalam Drona Parwa yang memuat tentang kisah Perang Mahabharata sebagaimana ditulis dalam Academia disebutkan bahwa nama Ekalawya secara harfiah berarti ―ia yang memusatkan pikirannya kepada suatu ilmu/mata pelajaran‖.
Ekalawya Bertekad ingin menjadi pemanah terbaik di dunia, lalu ia pergi ke Hastina ingin berguru kepada Bagawan Drona.
Keinginannya yang kuat untuk menimba ilmu panah lebih jauh, menuntun dirinya untuk datang ke Hastina dan berguru langsung pada Drona. 
Namun niatnya ditolak, Ini dikarenakanDrona melihat kemampuannya yang bisa menandingi Arjuna, padahal keinginan dan janji Drona adalah menjadikan Arjuna sebagaisatu-satunya ksatria pemanah paling unggul di jagat raya.
Ini menggambarkan sisi negatif dari Drona, serta menunjukkan sikap pilihkasih Drona kepada murid-muridnya, dimana Drona sangat menyayangi Arjuna melebihi murid-murid yang lainnya.
Penolakan sang guru tidak menghalangi niatnya untuk memperdalam ilmu keprajuritan, ia kemudian kembali masuk kehutan dan mulai belajar sendiri dan membuat patung Drona serta memujanya dan menghormati sebagai seorang murid yang sedang menimba ilmu pada sang guru. 
Berkat kegigihannya dalam berlatih, Ekalawya menjadi seorang prajurit yang gagah dengan kecapakan yang luar biasadalam ilmu memanah, yang sejajar bahkan lebih pandai daripada Arjuna, murid kesayangan Drona. 
Suatu hari, ditengah hutan saat ia sedang berlatih sendiri, ia mendengar suara anjing menggonggong, tanpa melihat Ekalawya melepaskan anak panah yang tepatmengenai mulut anjing tersebut. Saat anjing tersebut ditemukan oleh para Pandawa, mereka bertanya-tanya siapa orang yang mampu melakukan ini semua selain Arjuna. 
Kemudian mereka melihat Ekalwya, yang memperkenalkan dirinya sebagai murid dari Guru Drona.
Mendengar pengakuan Ekalawya, timbul kegundahan dalam hati Arjuna, bahwa ia tidak lagi menjadi seorang prajurit terbaik, ksatriautama. Dan perasaan gundah Arjuna pun bisa dibaca oleh Drona, yang juga mengingat akan janjinya pada Arjuna bahwa hanya Arjuna-lah murid yang terbaik diantara semua muridnya.
Kemudian Drona bersama Arjuna mengunjungi Ekalawya. Ekalawya dengan sigap menyembah pada sang guru. 
Namun ia malahan mendapat amarah atas sikap Ekalawya yang tidak bermoral, mengaku sebagai murid Dronameskipun dahulu sudah pernah ditolak untuk diangkat murid. 
Dalam kesempatan itu pula Drona meminta Ekalwya untuk melakukan Dakshina, permintaan guru kepada muridnya sebagai tanda terima kasih seorang murid yang telah menyelesaikan pendidikan. Drona meminta supaya ia memotong ibu jarinya, yang tanpa ragu dilakukan oleh Ekalawya serta menyerahkan ibu jari kanannya kepada Drona, meskipun dia tahu akan akibat dari pengorbanannya tersebut, ia akan kehilangan kemampuan dalam ilmu memanah. 
Ekalawya menghormati sang guru dan menunjukkan Guru bhakti‖. 
Namun tidak setimpal dengan apa yang didapatkannya yang akhirnya kehilangan kemampuan yang dipelajari dari ―Sang Guru‖. Drona lebih mementingkan dirinya dan rasa ego untuk menjadikan Arjuna sebagai prajurit utama dan tetap yang terbaik.

Kematian Ekalawya termuat dalam Srimad Bhagawatam. 
Ekalawya bertempur untuk Raja Jarasanda dalam peperangan melawan Sri Kresna dan Balarama, dan terbunuh dalam pertempuran oleh pasukan Yadawa.
Versi Jawa Dalam pewayangan Jawa, Ekalawya atau Ekalaya atau Ekalya (dalam cerita pedalangan dikenal pula dengan nama ―Palgunadi‖) adalah Raja negara Paranggelung. 
Ekalaya mempunyai isteri yang sangat cantik dan sangat setia bernama Dewi Anggraini, puteri hapsari (bidadari) Warsiki. Ekalaya seorang raja kesatria, yang selalu mendalami olah keprajuritan dan menekuni ilmu perang. Ia sangat sakti dan sangat mahir mampergunakan senjata panah. 
Ia juga mempunyai cincin pusaka bernama Mustika Ampal yang menyatu dengan ibu jari tangankanannya. 
Ekalaya berwatak jujur, setia, tekun dan tabah, sangat mencintai istrinya.Ekalaya adalah seseorang yang gigih dalam menuntut ilmu. 

Suatu ketika Prabu Ekalaya mendapatkan bisikan ghaib untuk mempelajari ilmu atau ajian Danurwenda yang kebetulan hanya dimiliki oleh Resi Drona. Sedangkan Sang Resi sudah berjanji tidak akan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain melainkan kepada para Pandawa dan Korawa saja. 
Dengan kegigihannya Prabu Ekalaya belajar sendiri dengan cara membuat patung Sang Resi dan belajar dengan sungguh-sungguh sehingga berhasil menguasai ajian tersebut.
Istri Prabu Ekalaya sangat cantik jelita sehingga membuat Arjuna berhasrat padanya, Dewi Anggraini mengadukan hal tersebut kepada suaminya sehingga terjadi perselisihan dengan Arjuna. 
Prabu Ekalaya mempertahankan haknya sehingga bertarung dengan Arjuna yang menyebabkan Arjuna sempat mati yang kemudian dihidupkan kembali oleh Prabu Batara Sri Kresna
Dalam perselisihannya dengan Arjuna, Ekalaya ditipu untuk merelakan ibu jari tangan kanannya dipotong oleh patung‘ Resi Drona, yang mengakibatkan kematiaannya karena cincin Mustika Ampal lepas dari tubuhnya. 
Menjelang kematiaanya, Ekalaya berjanji akan membalas kematiannya pada Resi Drona. Dalam perang Bharatayuddha, kutuk dendam Ekalaya menjadi kenyataan. 
Arwahnya menyatu dalam tubuh Arya Drestadyumena, kesatria Panchala, yang memenggal putus kepala Resi Drona hingga menemui ajalnya.
***