Aja Were

Palawakya

Palawakya adalah kata-kata yang harus disampaikan kepada orang lain ( ajaran-ajaran ) prosa dalam bahasa kawi yang merupakan satu jenis dengan teks keagamaan seperti halnya terdengar indah saat pembacaan mamutru dalam pelaksanaan upacara yadnya.
Dibentuk dari dua kata yakni ”pala” dan ”waky”. ”Pala” dari kata ”para” (lain) dan ”wakya” dari kata ”wak” (kata-kata).
Dalam Utsawa Dharma Gita, membaca dan melantunkan irama ditentukan pada intonasi serta ketepatan pengejaan dan pemenggalan kata.

Teknis pembacaan Palawakya dalam Dharmagita Hindu Dharma disebutkan biasanya pengambilan suara sama dengan kekawin.
Kekawin juga memperhatikan guru lagu, namun tidak sama dengan lagu ( dalam pengertian metrum ) kekawin.
Guru pada Palawakya lebih mengacu pada intonasi bacaan. Intonasi bacaan dimaksudkan yaitu pada pemenggalan bacaan sehingga teks yang dibaca mudah ditangkap maknanya.

Contoh Palawakya :

Otonan #1
Paramarthanya pengepenge ta pw aka temwaniking si dadi wang
Durlabhawiya ta, saksat handaning mara ring swarga ika
Sanimittaning tan iba muwahta pwa damalakena
Artinya :
Tujuan terpenting dalam hidup ini, pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan lahir menjadi manusia.
Ini sungguh sulit diperoleh laksana tangga menuju sorga
Segala apa yang menyebabkan tidak akan jatuh lagi itu hendaknya supaya dipegang.
Pawiwahan #2
Jika di tiga dunia Tri Loka, dharmalah sebagai penerang.
Namun dalam keluarga, anak yang suputra sebagai penerang, demikian menurut ajaran sucinya.

***