Aja Were

Sanjaya

Sanjaya adalah penulis kitab Bhagawad Gita yang merupakan rangkuman kata-kata bijak dari Kresna sebagai sebuah wejangan.
Dalam kisah epos Mahabharata, dahulu Sanjaya merupakan penasihat pribadi dari Raja Drestarasta yang dikirim pertama kali dalam usaha perdamaian untuk berunding dengan pihak Pandawa
Diceritakan pula dalam Wayang Indonesia dalam usaha perdamaian tersebut;
Pada saat pertemuan ketika itu, Raja Drestarastra yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, kemudian berdiri dan dengan dituntun oleh Sanjaya, pembantu dan penasehat setianya, ia naik ke mimbar dan berkata,
“Demi keselamatan kita semua dan kesejahteraan Pandawa, aku putuskan untuk mengirim Sanjaya berunding dengan Pandawa. Pulanglah wahai sang duta. Sampaikan hal ini kepada Yudhistira”.
Kemudian Drestarastra memberikan pesan-pesan kepada Sanjaya,
“Pergilah menemui putra-putra Pandu. Sampaikan salam kasihku kepada mereka dan salam hormatku kepada Kresna, Setyaki dan Wirata.
Pergilah atas namaku dan berundinglah dalam suasana kekeluargaan untuk menghindari peperangan”.
Maka berangkatlah Sanjaya ke Upaplawya dengan membawa pesan perdamaian.

Dalam pertemuan khusus yang diadakan untuk menyambut kedatangannya, Sanjaya berkata singkat,
“Dharmaputra, merupakan kebahagiaan dan kehormatan bagiku mendapat kesempatan untuk bertemu dengan putra-putra Pandu. Engkau dikelilingi sanak saudara dan sahabat-sahabatmu. Itu membuatku merasa lega. 
Raja Drestarastra mengutusku untuk menyampaikan salam kasih dan doa restunya bagimu. Ia tidak menginginkan perang. Ia menginginkan persaudaraan, persahabatan dan perdamianan dengan Pandawa”.
Mendengar kata-kata Sanjaya, dengan senang hati Yudhistira menjawab,
“Kalau memang demikian, berarti putra-putra Drestarastra telah sadar. Kita semua bisa tenang. Kalau kerajaan kami dikembalikan, kami bersedia melupakan segala perselisihan kita dan kepahitan yang kami alami di masa lalu”.
Sanjaya berkata lagi,
“Yudhistira, janganlah berharap bahwa putra-putra Drestarastra akan sadar. 
Mereka tidak seperti yang kau bayangkan. Mereka tetap menentang ayah mereka dan menginginkan perang. 
Tetapi kuharap engkau tidak kehilangan kesabaran. Yudhistira, engkau selalu bertindak adil dan jujur serta bersikap tegas dalam menjunjung kebenaran.
Mari kita hindari peperangan. Pandawa mungkin mampu menaklukkan dunia tanpa batas. Tetapi apa gunanya memiliki kerajaan dengan jalan membunuh sanak kerabat sendiri ? 
Duryodhana dan saudara-saudaranya memang jahat dan serakah, tetapi janganlah sampai engkau terbawa nafsu dan hilang kesabaran. 
Walaupun mereka tidak mau mengembalikan kerajaanmu, janganlah engkau tinggalkan jalan kemuliaan”.
Yudhistira menjawab,
“Sanjaya, apa yang engkau katakan itu benar. Memegang kebenaran adalah harta terbaik. Tapi, bukankah kami tidak melakukan kejahatan ? 
Kresna tahu akan hakikat kebenaran. Ia pasti mengharapkan kita, kedua belah pihak, selamat dan sentosa. Aku akan minta pendapatnya”.
Kresna lalu berkata,
“Aku menginginkan kesejahteraan bagi Pandawa. Aku juga mengharapkan Drestarastra dan putra-putranya bahagia. Ini sulit. Aku pikir, mungkin aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan pergi sendiri ke Hastinapura. Kalau kita bisa mencapai persetujuan yang tidak merugikan Pandawa, aku senang. 
Kalau aku berhasil berbuat demikian, berarti Kurawa dapat diselamatkan dari kemusnahan. Kalau dengan jalan perdamaian Pandawa bisa memperoleh apa yang mereka kehendaki, mereka akan tetap menaruh hormat kepada Drestarastra. 
Tetapi kalau perang tak dapat dihindari, Pandawa siap menghadapinya. Dari dua kemungkinan ini, silahkan Drestarastra memilih. Perang atau damai. Damai atau perang”.
Akhirnya Yudhistira berkata kepada utusan Raja Drestarastra,
“Wahai Sanjaya, kembalilah ke Hastinapura dan sampaikan pesanku ini kepada Paman Drestarastra”.
“Bukankah berkat ketulusan hati Paman, kami memperoleh sebagian wilayah kerajaan sebagai warisan ketika kami masih muda ? 
Paman pernah menjadikan aku sebagai raja dan Paman seharusnya mengakui hak kami sebagai pewaris yang sah. 
Paman seharusnya tidak mengusir kami, hingga kami terpaksa hidup seperti pengemis yang menggantungkan nasib pada belas kasihan orang. Paman yang kami hormati, sesungguhnya kerajaan kita cukup luas untuk dibagi dua. 
Karena itu, mari hindari permusuhan di antara kita”.
“Demikian hendaknya engkau sampaikan pesanku kepada Raja Drestarastra. Sampaikan salam hormat dan kasihku kepada kakek Bisma dan mohon restunya agar semua cucunya hidup bahagia dan bersatu, tanpa permusuhan. Salam juga untuk Widura. Ia adalah orang yang paling bisa melihat dengan lurus dan dapat memberi nasehat dengan adil”.
Kemudian Yudhistira melanjutkan lagi,
“Tolong sampaikan pesanku ini kepada Duryodhana”
“Saudaraku tercinta, engkau telah menyebabkan kami, putra-putra pamanmu, hidup mengembara di hutan dan mengenakan pakaian kulit kayu. Engkau menghina dan menyeret istri kami di depan orang banyak. Kami terima semua itu dengan sabar. 
Kini, kembalikan milik kami yang sah. Kami ini berlima, setidak-tidaknya kembalikan lima desa kepada kami. Dan marilah kita berdamai. Sambutlah uluran tangan kami dengan hati yang ikhlas”.
“Ya, Sanjaya, sampaikan ini kepada Duryodhana. Kami siap menempuh jalan damai, tapi jika Kurawa menghendaki, kamipun siap menempuh jalan perang”.
Demikianlah, Sanjaya kembali ke Hastinapura dengan membawa pesan penting untuk Drestarastra dan Duryodhana.

Dan pada akhirnya perdamaian pun tak dapat terwujud yang mengakibatkan perang besar Bharata Yuda terjadi.

Bharatayuddha dan Bhagawadgita dalam kisah Kresna dan Wejangannya;
Sejatinya Kresna merupakan saudara sepupu dari kedua belah pihak dalam perang antara Pandawa dan Korawa (Mahabharata/Bharatayuddha). Ia menawarkan mereka untuk memilih pasukannya atau dirinya. 
Para Korawa mengambil pasukannya; 
Sedangkan dirinya bersama para Pandawa. Ia pun sudi untuk menjadi kusir kereta Arjuna dalam pertempuran akbar. 
Pada saat itulah lahir kata-kata bijak dari Kresna yang dicatat oleh Sanjaya, yang kemudian di kenal dengan Bhagawadgita sebagai rangkuman dari kata-kata bijaknya.
***