Tahukah Anda ? *) Pencarian data

Tri Antah karana

Tri Antah karana adalah tiga alat batin manusia yang menentukan watak dan pikiran manusia yang dalam ikkasukma, bhuana alit disebutkan terdiri dari :
  1. Budhi, fungsinya untuk menentukan keputusan.
  2. Manas,fungsinya untuk berpikir.
  3. Ahamkara, fungsinya untuk merasakan dan bertindak.
Pikiran inilah yang disebutkan menggerakan Dasa Indriya yang selanjutnya sebagaimana dijelaskan stiti dharma online dalam manusia, salah satu unsur Tri Antah Karana yakni Ahamkara, mendapat sinyal dari Panca Buddhindriya (lima syaraf penangkap) yang ada di sthula sarira.
  • Ahamkara meneruskan sinyal yang ditangkap oleh Panca Buddhindriya kepada unsur kedua dari Tri Antah Karana, yaitu: Manas yang berfungsi mempertimbangkan serta menyampaikan beberapa alternatif keputusan kepada unsur Tri Antah Karana yang ketiga yakni Buddhi.
  • Setelah Buddhi memutuskan, keputusan itu dikembalikan ke Ahamkara untuk dilaksanakan oleh Panca Karmendriya (lima pelaku):
Prilaku manusia, tergantung dari proses yang terjadi pada Tri Antah Karana. 
  • Proses ini, terutama pada Manas dan Buddhi dipengaruhi oleh Triguna yakni: Guna Satwam (ketenangan, kedamaian), Guna Rajas (ambisi, kegiatan, dinamika), dan Guna Tamas (kemalasan, ketidak pedulian).
  • Manusia bisa berprilaku dharma kalau Manas dan Buddhi mendapat pengaruh positif dari Daiwi Sampad; sebaliknya bila Manas dan Buddhi mendapat pengaruh negatif dari Asuri Sampad, terjadilah prilaku yang adharma.
Sinyal-sinyal dari Panca Buddhindriya yang masuk pada Tri Antah Karana, membentuk “selubung Suksma Sarira” yang disebut Panca Tan Matra.

Kaitan Tri Antah Karana pada Karmaphala dengan Karmawasana
  • Prarabda karmaphala langsung berpengaruh pada Sthula Sarira dan Tri Antah Karana di saat manusia hidup. 
  • Kryamana karmaphala melekat pada Karmawasana,
  • Sancita karmaphala berpengaruh pada Sthula Sarira dan Tri Antah Karana pada kehidupan berikutnya setelah punarbhawa.
Demikianlah proses Trikona: Utpatti – Sthiti – Pralina berlangsung dan berulang terus, sampai tiba masanya atman aworing acintya (moksa).
***