Aja Were

Emosi Keagamaan

Emosi keagamaan adalah suatu getaran jiwa yang dapat menggerakkan manusia untuk dapat melakukan suatu aktivitas-aktivitas yang bersifat religi.
Dan biasanya juga dapat terjadi apabila merasakan sesuatu hal yang gaib, maka pikiran cepat terpengaruh lalu menjadi takut, sakit dan mungkin bisa mati karena amat takutnya.
Maka untuk itulah disebutkan penggunaan umpal dalam busana adat bali yang diikat menggunakan simpul hidup di sebelah kanan sebagai symbol pengendalian emosi yang terutama digunakan manusia sebagai mahluk yang paling sempurna dengan memiliki Tri Pramana dalam hubungannya dengan Tuhan sebagai Maha Pencipta alam semesta beserta isiNya ini.
Dan semua aktivitas manusia yang berhubungan dengan relegi berdasarkan atas suatu getaran jiwa tersebut dalam kutipan proposal penelitian tradisi ngaben alit (mebretanem) di dadia banjar timbul pasek gegel desa busungbiu kecamatan busungbiu kabupaten buleleng disebutkan bahwa 
Emosi keagamaan ini biasanya pernah dialami oleh setiap manusia walaupun getaran emosi itu mungkin hanya berlangsung untuk berbeda detik saja untuk kemudian menghilang lagi. 
Emosi keagamaan itulah yang mendorong orang melaksanakan tindakan-tindakan yang bersifat religi. 
Emosi keagamaan menyebabkan sesuatu benda, suatu tindakan atau suatu gagasan, mendapat suatu nilai keramat atau sacred value dan dianggap keramat. Benda-benda, tindakan-tindakan atau gagasan-gagasan yang biasanya tidak keramat apabila dihadapi oleh manusia yang dihinggapi oleh emosi keagamaan sehingga seolah-olah terpesona, maka benda-benda, tindakan-tindakan dan gagasan-gagasan tadi menjadi (Koentjaraningrat, 1998:376).

Karena getaran jiwa yang disebut emosi keagamaan tadi bisa juga dirasakan seorang individu dalam keadaan sendiri, maka suatu aktivitas religius dapat dilakukan seorang diri dalam keadaan sunyi senyap. 
Seorang bisa berdoa, bersujud atau melakukan solat sendiri dengan penuh hikmat, dan dalam keadaan terhinggap oleh emosi keagamaan ia akan membayangkan Tuhan, Dewa, Roh atau lainnya. 
Wujud dari bayangan tadi akan ditentukan oleh kepercayaan-kepercayaan yang lazim hidup dalam masyarakat dan kebudayaannya, dan selanjutnya kelakuan-kelakuan keagamaan yang dijalankan akan juga menurut adat yang lazim. 

Walaupun orang bisa melakukan aktivitas religius seorang diri ia tidak dapat melakukan suatu hal yang belum pernah dilakukan oleh orang lain, sama sekali dicetuskan oleh pikirannya sendiri. 
Misalnya : seorang mengunjungi makan ibunya, ia terhinggap oleh emosi keagamaan dan membayangkan ibunya lagi, serta percaya bahwa ibunya itu hidup di sorga alam swah loka, menjaga keselamatannya, dan bisa melihat ia dari atas. 
Kemudian kalau ia mulai membakar kemenyan dan menaburkan bunga di atas makam, maka kelakuan-kelakuan religius itupun telah menurut adat yang lazim dalam kebudayaan (Koentjaraningrat, 2000:145).
Tentang asal mula timbulnya emosi keagamaan ini sangat sulit bahkan tidak mungkin dapat ditentukan pasti, mengingat segala sesuatu yang termasuk di dalamnya sangat kompleks dan selalu berkembang sesuai dengan keadaan yang menyertainya. 
Namun demikian secara prinsip harus diakui bahwa emosi keagamaan merupakan pendorong yang sangat kuat timbulnya tingkah laku atau tindakan-tindakan yang serba relegi dan keramat.
Sehingga dengan tetap menjaga kesadaran, dalam mimpi sekalipun, kita dapat dengan cepat memasuki evolusi bathin yang halus. karena yoga nidra disebutkan juga dapat memurnikan samsara kita dan membuat emosi kita stabil dan bathin kita tenang-seimbang dalam keadaan terjaga.
***