Tahukah Anda ? Yasa kerti lan bhakti... memargi antuk manah suci.

Benih

Benih atau juga disebut dengan "Rupa Suksma" sebagai benih kehidupan yang akan selalu mengingatkan bahwa ada sebuah proses untuk mencapai tujuan hidup itu.
Dan setiap orang pada dasarnya juga memiliki benih kehebatan dalam diri mereka.
Dan mungkin saja saat ini benih itu sedang tidur.
Namun ketika anda mulai mempercayainya, sejatinya anda akan mulai mengairi benih itu dan memberi mereka kesempatan untuk dapat tumbuh dan berkembang.
Ibaratnya potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh setiap daerah, seperti diberitakan di BaleBanjar.com dalam Bali for the future disebutkan bahwa potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh para seniman-seniman Bali pun kini mulai menghasilkan bentuk-bentuk baru yang khas, meskipun tidak terlepas dari akar budayanya. 
Salah satu contoh, sebelumnya kesenian tradisional Bali (yang dipertunjukan oleh para pregina) hanya ditujukan untuk kepentingan agama, tetapi sejak tahun 1930-an kesenian Bali sudah mulai disajikan untuk sekuler. 
Hal ini dapat dilihat dari karya-karya seniman lukis dan patung yang mana mulai berani mengangkat tema kehidupan sehari-hari ke dalam kerya-karyanya. 
  • Disamping itu pada tahun 1920-an Bali telah menjadi tempat kajian dari orang-orang barat, bahkan mereka menetap di pulau ini dengan waktu yang lama. 
  • Dan menetap serta berbaur bersama dalam kehidupan kebudayaan penduduk setempat sambil menggali dan mengembangkan potensi kebudayaan setempat dan memberi sentuhan dengan kebudayaan Barat yang mereka bawa. 
    • Adapun orang barat yang menjadi pionir interaksi kebudayaan Barat dengan kebudayaan Bali ,salah satunya adalah Welter Spies. 
    • Orang inilah yang pertama kali membawa kesenian Bali pada tahun 1930 keliling Eropa.
Interaksi kebudayaan yang terjadi di Bali baik yang dibawa oleh orang Barat dengan kebudayaannya dan kebudayaan pribumi lebih menunjukkan sifat pleksibel dan adaptatif, senantiasa mampu menerima dan mengolah unsur-unsur Barat (asing) didalam rangka memperkaya kebudayaannya sendiri tanpa harus melenyapkan kepribadian sendiri. 
Salah satu contoh ragam hias tradisional Bali diperkaya oleh Patra Cina, Patra Mesir, Patra Welanda). 
Bahkan yang paling penting dalam interaksi budaya tersebut dapat membentuk ketahanan budaya yang membangkitkan local genius dari kebudayaan Bali.
***