Sirih


Sirih adalah base dalam bahasa balinya.
Jaman dulu, sirih benar – benar bernilai tinggi. 
Setelah agama Hindu berkembang, sirih itupun menjadi unsur penting dalam upacara agama dan kegiatan lain.
Di Bali, salah satu bentuk banten disebut “Canang” karena inti dari setiap canang adalah sirih itu sendiri.

Sirih / Base dalam Bahasa Jawa Kuno juga disebut sebagal “suruh”, yang kalau dikaji lebih lanjut merupakan gabungan dan suku kata “su” dan “wruh”,
  • Su, berarti baik, sungguh, benar. (seperti makna yang terkandung dalam Swastika)
  • Sedangkan wruh berarti tahu atau pengetahuan (kawruh).
Dengan demikian suruh dapat diartikan sebagai pengetahuan yang baik dan benar atau utama, yang mempunyai maksud bahwa kita sebagai manusia yang dikaruniai akal budi harus mempunyai pengetahuan yang baik dan benar sebagai bekal di masa tua nanti karena hanya pengetahuanlah teman terbaik dalam hidup ini sebagaimana terungkap dalam Kekawin Niti Sastra 11.5 yang berbunyi:
“Norana mitra man glewihna waraguna maruhur”. (Tiada teman sebaik pengetahuan yang utama)
Namun demikian, untuk mencapai pengetahuan yang utama itu biasartya pahit rasanya sebagaimana rasa sirih waktu dimakan dan kalau tidak tawar kita bisa muntah-muntah. 
Akan tetapi kita juga harus berpikir akan hasil dan pengetahuan tersebut yang bisa membuat kita mencapai kebahagiaan rohani. Ingat peribahasa:
“Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian”.
Dan biasanya kita juga sering melihat para sulinggih, pemangku, ataupun orang-orang tua di Bali mempunyai kebiasaan “nginang” atau dalam bahasa halusnya disebut “mecanangan” (biasanya untuk kalangan sulinggih), 
Suatu kegiatan makan sirih/base yang sudah dicampur dengan buah pinang/buah, kapur /pamor dan gambir. Pecanangan (bahan-bahan untuk mecanangan) itu biasanya menjadi “rayunan” untuk seorang sulinggih. 
Bahkan ada yang mengatakan bahwa itu adalah kebutuhan utama.
Kebiasaan tersebut (baca nginang, yang juga merupakan Bahasa Jawa dan mempunyai arti yang sama) juga sering dilakukan oleh para orang tua di Jawa pada jaman dahulu.
Demikian ditambahkan pengertian penggunaan sirih pada ajaran tantrayana dalam artikel insanberpijar oleh : Ida Pedanda Gede Pemaron Mandhara sebagai sebuah tantra sastra dalam perkembangan Siwa Siddhanta di Bali.
***