Widya

Widya (atau Vidya) artinya cahaya kegelapan bathin dan pikiran dari belenggu awidya;
Dan hendaknyalah disebutkan agar kita dapat bersifat bijaksana dalam penguasaan berbagai ilmu untuk mencapai kesadaran hidup.
Sifat widya sebagai salah satu dari prinsip dasar kemurnian rohani dan jasmani dalam menjalankan kebenaran dan kesucian hidup yang merupakan bagian dari dasa dharma disebutkan untuk dapat mencapai kebahagiaan dan kebenaran sejati.

Dimana dalam pembagiannya disebutkan yaitu :
  • Para Vidya disebut dengan ilmu kerohanian.
    • Seperti halnya mempelajari Vidya tantrik sebagai sebuah sadhana spiritual untuk mencapai pembebasan rohani.
  • Sedangkan Apara Vidya disebut dengan ilmu keduniaan.
Dan dapat menyaring untuk memisahkan dari kekotoran atau hal - hal yang dapat menyesatkan dalam ilmu pengetahuan yang dipelajari, itulah disebut dengan sifat yang bijaksana sebagaimana makna yang terkandung dalam simbol angsa sebagai wahana dari Dewa Brahma dan Dewi Saraswati yang menjadi sumber dari ilmu pengetahuan dan kecerdasan dalam tuntunan guru pengajian di sekolah, kampus dll.
  • Disebut Widyadari karena dengan kesucianNya menjadi lambang kekuatan para dewata,
  • Sedangkan pengertian Brahma Widya dalam Agama Hindu disebut sebagai pengetahuan tentang kesejatian Tuhan.
Tujuan penguasaan ilmu pengetahuan bagi umat Hindu adalah untuk membedah bidang kegelapan (awidya) dengan pedang pembedaan (wiweka). 
Dalam ajaran Raja Yoga telah diajarkan tiga tahap kemampuan membedakan bagian permukaan dari ''diri kita'', yang terletak berlapis-lapis di bagian luar dengan ''diri kita'' yang telah luas yang terletak di dalamnya. 
  1. Pertama, mendengarkan ucapan orang-orang bijaksana, membaca kitab-kitab suci, serta naskah-naskah filsafat. Kita diperkenalkan bahwa, tanpa disadari, di pusat jati dirilah letak sumber kehidupan yang sesungguhnya. 
  2. Kedua, berpikir melalui kontemplasi dan refleksi yang mendalam dan terus-menerus. Apa yang telah muncul pada tahapan pertama sebagai kemungkinan abstrak dilihat sebagai sesuatu yang menimbulkan kesadaran hidup tentang atman yang mendasari kepribadian yang fenomenal ini. 
  3. Pada saat demikian kita sudah siap memasuki tahap ketiga, yakni pengadilan identifikasi diri dari bagian hidup yang masih berlangsung hingga saat ini, ke bagian hidup yang abadi. 
Cara melakukannya yaitu dapat dengan bermeditasi, tetap mengulang-ulang nama Tuhan (japa, namasmaranam) sambil melakukan pekerjaan sehari-hari (karma yoga). 

Disamping itu, ada lima pilar ilmu pengetahuan kebijaksanaan yang terajut dalam sebuah untaian kata mutiara, yaitu: 
  • Kebenaran (satya) sebagai cinta kasih dalam pikiran; 
  • Kebajikan (dharma) sebagai cinta kasih dalam tindakan; 
  • Kedamaian (shanti) sebagai cinta kasih dalam perasaan; 
  • Cinta kasih (prema) sebagai dasar pembentukan karakter untuk dapat mengasihi makhluk lain.
  • Serta tanpa kekerasan (ahimsa) sebagai cinta kasih dalam pengertiannya.
***