Ampura


Ampura adalah ucapan kata "maaf" yang tulus iklas dalam bahasa balinya dimana :
"Nunas Ampura" berarti permohonan / meminta maaf;

Sedangkan "Ngampurayang" artinya memberi maaf.
Dan saling memaafkan kesalahan masing-masing serta berjanji untuk tidak membuat kesalahan lagi dikemudian hari merupakan bagian dari sad dharma yang biasanya dilaksanakan pada saat Ngembak Geni dalam rangka menyambut warsa anyar, tahun baru saka.

Sebagai umat Hindu Dharma, kita juga diajarkan untuk selalu bersikap bersahabat kepada siapapun. Sikap bersahabat ini, jika berhasil kita terapkan, akan menciptakan kedamaian dalam hidup.
Sejatinya tidak ada musuh di luar diri kita karena sesungguhnya musuh itu bercokol dalam diri setiap orang.
Apapun perilaku orang lain terhadap kita, sebagai seorang sahabat sejati, kita akan tetap menresponnya bagaiamana layaknya seorang sahabat. 
Jika sahabat kita melakukan kesalahan, kita tidak akan mendendam ataupun membencinya.
Malahan kita akan segera bisa memaafkannya.
Membenci ataupun dendam terhadap seseorang akan menimbulkan beban berat pada kita. Beban tersebut akan terus kita pikul dalam perjalanana ke manapun kita pergi. Sebaliknya, memaafkan berarti membebaskan kita dari beban berat. 

Dengan memaafkan, beban itu akan lepas, sehingga kita akan lega kembali. Sikap ini akan nampak jika kita menganggap bahwa semua orang adalah sahabat (Maitri).

Dan disamping upacara metapak yang kita kenal sebagai bentuk keunikan dari sebuah upacara sakral sebagai tanda ucapan terimakasih dan permohonan maaf si anak kepada orang tuanya juga sebagaimana ditambahan dalam tradisi warisan nenek moyang, upacara ngunye yang dilakukan saat upacara pitra yadnya juga disebutkan ditujukan untuk memberikan kesempatan terakhir bagi krama Banjar untuk memaafkan sang pitra jika ada kesalahan / kekeliruan yang diperbuat terhadap krama dan belum dimaafkan hingga dibawa mati. 
Sedangkan bagi pratisentana yang ngarepang ngaben (sane meduwe sawa) saat Ngunya berlangsung juga disebutkan harus menyapa krama Banjar yang datang, sehingga secara manusiawi dikandung makna tidak boleh ada permusuhan diantara krama, baik saat ngertiyang yadnya sang pitra maupun setelah upacara ngaben
Demikian ditambahkan dalam tradisi ngunye dan dan ritus budaya mahkota yang dilaksanakan setiap upacara ngaben massal di Desa Pakraman Pesedahan Manggis, hingga kini masih lestari dilaksanakan oleh krama Banjar di tempat.
***