Kepongor

Kepongor adalah istilah seseorang terkena kutukan dan selalu ditimpa musibah ataupun nasib sial yang umumnya dikatakan sebagai penyebab dari :
  • Tiada taatnya seseorang atau durhaka terhadap para leluhur mereka. 
    • Karena pada dasarnya, para leluhur sebagai asal muasal kita sebagai manusia hendaknya disebutkan kewajiban kitalah sebagai manusia selalu dapat berbhakti kepada-Nya.
  • Berani bertingkah laku yang tidak baik dan hilangnya rasa bhakti kepada para dewa sebagai manifestasi atau sinar suci Tuhan yang telah berjasa terhadap keberadaan alam ini.
  • Tuhan memberikan kita bekal yaitu suka duka lara pati yang disebutkan bahwa :
    • Semuanya itu mungkin saja bertujuan untuk membantu kita bisa ikhlas agar dapat bersyukur atas setiap hal yang membahagiakan, dan sebaliknya saat musibah menghampiri kita.
Sesungguhnya kepercayaan akan kepongor dalam metode pendidikan agama yang efektif disebutkan hal ini juga terdapat dalam Itihasa dan Purana
  • Cerita akan kehancuran para raksasa akibat keangkuhan dan keangkaramurkaannya juga merupakan bentuk kepongornya kepada para dewa. 
  • Hiranyakasipu, Rahwana, Sisupaladan Duryodana merupakan tokoh-tokoh yang terkenal kepongor dalam Purana dan Itihasa. 
Itihasa dan Purana seolah berpesan agar kita semua menjadi orang baik dan tidak sekali-kali berani melawan dewa atau leluhur. Cukup dipercaya dan lakukan dan hasilnya akan kita dapatkan pada akhirnya.

Istilah kepongor juga tertuang dalam hukum kawitan :
  • Keputusan bersama dalam sebuah bhisama dari para leluhur pada zaman dahulu juga hendaknya selalu ditaati oleh keturunannya.
  • Karena kemarahan roh leluhur (kepongor) bisa saja seseorang akan tertimpa kutukan yang dapat menyebabkan terjadinya dosa secara turun-temurun.
Dalam pola hubungan sebab akibat antara pretisentana dengan leluhur yang telah tiada dalam kutipan kepongor hukum kawitan disebutkan bahwa : 
Ada sebuah keyakinan bahwa baik buruk perilaku pretisentana di mercapada (dunia) akan mempengaruhi kehidupan leluhur di sunialoka. 
  • Ketika pretisentana dapat menjalankan kewajiban hidup dengan baik, hubungan harmonis dengan sesama manusia, menjaga warisan leluhur, maka para leluhur yang ada di sunialoka akan menemui kebahagiaan. 
  • Namun sebaliknya apabila pretisentana tidak menjalankan apa yang telah digariskan oleh leluhur, seperti selalu bertengkar dengan saudara, mengabaikan warisan leluhur, tidak memelihara kahyangan, tidak berbhakti kepada leluhur dan Ida Sanghyang Widhi Wasa maka leluhur akan mengalami kesedihan. 
Untuk itulah leluhur menyarankan kepada seluruh pretisentananya untuk melakukan perbuatan yang baik, sehingga akan menyebabkan leluhur mendapatkan kebahagiaan.
Semua hukum yang disampaikan leluhur tersebut tercatat dalam bhisama Ida Betara Kawitan
Masing-masing keluarga (soroh) di Bali memiliki pura kawitan tersendiri yang merupakan media untuk menghubungkan diri dengan leluhur yang telah tiada. 
Tata hubungan tersebut tersurat di dalam beberapa prasasti kawitan yang berisikan sejarah tentang leluhur, lelintihan (silsilah) leluhur dan berisi bhisama atau pesan/petuah/amanat leluhur.
Inilah sebagai pesan moral yang perlu ditaati. Disamping bersisi pesan, bhisama Ida Betara Kawitan juga memuat tentang sangsi yang diperoleh bila tidak mengikuti bhisama. 
Jadi dengan demikian bahwa bhisama mengandung nilai hukum, nasehat, dan sangsi. Yang lebih menarik bahwa sangsi yang dimuat dalam bhisama tersebut bukanlah sebuah sangsi yang dapat dibayar dengan hukum kurungan atau denda, namun sangsinya adalah bersifat niskala.
Dan disarankan juga, untuk dapat mengetahui kebenaran dan keberadaan alam niskala tersebut yang di Bali disebutkan juga dapat dilaksanakan dengan menggunakan Ronsen Niskala yang biasanya dilakukan dengan ritual mapinunas melalui seorang Jro Balian sebagai pengantar spiritualnya.
***