Jika dibiarkan kosong, cepat ataupun lambat pasti akan dipenuhi debu.
Debu yang kian banyak akan menebal, lalu ruangan menjadi kotor, lembab, pengap dan berbau.
Dalam keadaan demikian, tanpa diundang akan datang dan berdiam berbagai jenis binatang, mulai jangkrik. laba-laba, kecoak, lipan, kalajengking. tikus dll.
Ditandai dengan munculnya makhluk gaib (hantu/setan), bahkan kemudian menghuni rumah kosong tersebut.
Jadilah rumah yang semula dihuni manusia menjadi rumah hantu. Mengembalikannya menjadi rumah/ruang bersih dan suci lagi memerlukan prosesi ritual samskara, entah itu prayascita, ulap-ambe atau pamlaspas ulang.
Demikian pula dengan “rumah” Tuhan yang tidak lain diri kita sendiri dengan ruang-ruang Dewa yang diyakini “malinggih” pada setiap organ tubuh manusia, akan sama keadaannya jika dibiarkan tanpa perawatan dan penguatan keimanan (sraddha).
Rumah Tuhan dalam diri menjadi kosong, dan hampa; kehilangan aura religius dan meredupnya pancaran sinar suciNya.Konsekuensinya, tanpa disadari tampilan diri seperti bukan rupa manusia (manawa), lebih tampak dan memancarkan vibrasi asura (danawa), hingga teramat sulit terangkat menjadi sosok Dewa (madawa). Inilah yang sering disebut sebagai “manusa mawak bhuta”, bukan “Dewa mawak manusa”.
Dikutip dari artikel-artikel Hindu Dharma sebagai penguatan sraddha yang dapat memberikan keseimbangan hidup.
***