Aja Were

Waskita

Waskita artinya kewaspadaan dan ketajaman penglihatan; 

Dimana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia on line, kata waskita berarti memiliki ketajaman pengelihatan rohani; mampu melihat kejadian di masa lalu-masa sekarang-masa akan datang dimana saja; 

Jadi tidak terbatas ruang dan waktu.

Ibaratnya kita hidup di alam liar, seperti halnya diceritakan tikus kecil sebagai wahana Dewa Ganesha;

Gajah itu dikatakan adalah contoh hewan besar yang waskita, karena mereka mampu mendengar dengan seksama memakai kedua telinganya.

Bahkan kedatangan awan mendung membawa hujan badai yang masih ada berkilo-kilo meter jauhnya pun sudah mereka ketahui. 

Karena itu mereka dianggap sebagai hewan peramal di alamnya."

"Mereka bisa mendengar gemericik air dengan telinga besar itu dan mencium aroma air dari kejauhan, atau yang ada di bawah lapisan tanah. Maka gajah-gajah bisa menggali sungai kering dengan gading mereka yang runcing, agar mendapatkan sumber air yang tersembunyi.

Setelah mereka cukup mendapatkan air, maka sumur kecil itu mereka tinggalkan untuk tempat minum hewan-hewan lainnya.

Demikian pula halnya dengan Jaratkaru yaitu seorang waskita yoga yang dikisahkan telah menguasai Aji Kalepasan yang dapat dalam hitungan sepersekian detik "pergi" memasuki alam setelah kematian, bahkan beliau sesungguhnya dapat pergi kemanapun keinginannya dalam sekejap mata, dan ia dan ia dapat mengembara ke berbagai dimensi alam.

Kenyataan diyakini juga adanya Orang yang mampu mencapai Moksa dalam hidup ini. 

Orang sejenis ini tidak bisa disangkal lagi; beliau adalah “Orang Suci”, orang yang dalam kesehariannya hidup seperti manusia umumnya; bisa haus, lapar dan sebagainya. 

Namun beliau pasti dapat dilihat dan dirasakan sangat damai; tenang, santun dan lebih banyak diam dan tersenyum, namun waskita. 

Tidak sembarangan berbicara, berpendapat apalagi meramal. Berbicara dan berpendapat jujur apa adanya; kalau diminta dan dianggap perlu.

Karena mereka memiliki tejaman pengelihatan rohani; mampu melihat kejadian di masa lalu-masa sekarang-masa akan datang dimana saja; jadi tidak terbatas ruang dan waktu.

Dalam meditasinya. beliau dengan mudah mencapai Samadhi
Kesadaran Rohani; hingga mencapai Alam Abadi; Alam Tuhan yang memang sulit dicapai orang. 
Orang Suci seperti itu kita kenal sebagai Jiwanmukti. Manusia Sempurna menurut Hindu

Dan yang paling penting orang suci seperti itu adalah Guru Sejati yang mampu berada dimana-mana dalam waktu bersamaaan atau omnipresen; seperti kutipan berikut:

“Anda mengetahui, Guru Sejati yang asli, adalah Guru Sejati yang mencapai pencerahan sempurna, harus dapat hadir di mana-mana pada waktu yang sama; itu merupakan surat identitas satu-satunya. 

Artinya 
Dia harus mampu tampil di tempat yang berbeda pada saat yang sama” (Supreme Master Ching Hai; Kunci Mencapai Pencerahan Seketika 4; hal 137)

Yang dimaksud; beliau memiliki badan (halus) jelmaan yang sangat banyak; sehingga bisa tampil dimana-mana.

Sehingga untuk mampu mencapai Samadhi (puncak dari Astangga Yoga) membutuhkan seorang Guru Sejati seperti itu; 

Guru yang memiliki kemampuan untuk itu. .

Maksudnya Guru yang mampu menghantarkan kita sampai ke Kesadaran Rohani (Samadhi) melalui diksa/inisiasi

Dan Setelah mencapai Samadhi dalam diksa; patut dilanjutkan dengan tekun berlatih.

Demikian ditambahkan dalam keterangan Jiwanmukti, manusia sempurna menurut Hindu (ref) yang selalu memiliki ketajaman dalam penglihatan rohani.

***