Aja Were

Chaitanya

Chaitanya (Caitanya) artinya gerakan-gerakan tangan kosmis Dewa Siwa dalam menggunakan Damaru kecilNya.
Siwa sebagai pendaur ulang semesta digambarkan memiliki empat lengan sebagaimana kebanyakan Dewa Hindu lainnya. 
Dua dari empat lengannya ini biasanya memegang Trisula dan Damaru (drum), tapi terkadang Damaru ini dipasang pada ujung trisula miliknya.
Setiap sikap tangan dengan gerakan tubuh memiliki makna tertentu dan kekuatan tertentu seperti yang ditunjukan dalam Tarian Shivanataraja yang tidak semata-mata berdasarkan keindahan rupa atau pakaian tetapi juga mempunyai kekuatan sekala dan niskala yang dalam Rg Weda Samhita disebutkan :
Cahaya Bhagavatam (Jyotir,Tat Savitur) akan hadir di dalam kesadaran seorang manusia yang disebut dengan Atma Chaitanyam.
Menurut paham Shaiva monis dalam salah satu motiara weda disebutkan kesadaran (chaitanya) adalah Diri Yang Sejati (atma). Penyebab mengapa kita tidak mampu berada pada kondisi itu oleh karena kekotoran (mala), yakni

  • Kekotoran yang bersifat inheren (anava mala), 
  • Kekotoran oleh karena maya (mayiya mala), 
  • dan kekotoran yang disebabkan oleh karma (karma mala). 

Paham dualis memandang bahwa ada dua realitas yang berbeda, yakni Sang Diri yang murni (atma) dan kekotoran (mala).
Tetapi Shaiva monis melihat bahwa tidak ada apapun yang berpisah dari kesadaran, sehingga bagaimana mungkin mala itu berbeda dari Chaitanya itu sendiri? Bagaimana mungkin mala bisa menjadi lawan dari Chaitanya?
Mala tidak lain adalah ajnana (kebodohan), ketidaktahuan akan nature dirinya yang sejati. Kebodohan inilah anava mala yang menjadi penyebab dari samsara (mayiya mala). 
Mayiya mala ini kemudian kembali menjadi sebab dari karma mala. Rentetan inilah yang menyebabkan kita betul-betul lupa dengan Diri kita yang sejati. 
Dalam teks sutra di atas disebutkan dengan jelas bahwa pengetahuan yang terbatas atau ajnana adalah rintangan setiap orang untuk mengenal Dirinya yang sejati. Oleh karena pengetahuan yang terbatas, Diri kita tidak mengenal sifat asli kita, yakni svatantrya (kekebasan abadi) dan anandam (kebahagiaan sejati).
***