Aja Were

Neti-Neti

Neti-Neti artinya bukan ini dan juga bukan yang ini.

Ucapan neti-neti bukan berarti tidak tetap pendirian akan tetapi berarti kebijaksanaan seperti air yang bisa menyesuaikan bentuk untuk menghasilkan jawaban yang ananda (bahagia).
Terkadang pikiran manusia beragam, ada yang percaya Tuhan itu berkepribadian dan ada yang tidak; 
Ada yang percaya Tuhan itu pria dan ada yang tidak; 
Ada yang percaya Tuhan itu berwujud dan ada yang tidak; 
Ada yang percaya Tuhan itu eksklusif bagi kelompok tertentu dan ada yang tidak; 
Ada yang percaya Tuhan itu pencemburu dan ada yang tidak; 
Ada yang percaya Atheism dan ada yang theism, dalam theism ada yang yang percaya monoteism dan ada yang tidak, dst.
Namun Hindu merangkul segala perbedaan bagai seorang ibu merangkul segala perbedaan anak-anaknya.

Dalam ajaran Hindu, dalam catatan kompasiana dikatakan bahwa Tuhan itu Neti, Neti, Neti (bukan ini, bukan ini, bukan ini) dengan kata lain sesungguhnya Tuhan tidak dapat didefinisikan sehingga dikatakan Tuhan itu “bukan ini, bukan itu”.
Karena dalam Brahmasutra dinyatakan bahwa Tuhan itu “Tad avyaktam, aha hi” (sesungguhnya Tuhan tidak terkatakan). 
Oleh karena Tuhan tidak dapat didefinisikan maka Tuhan dibatas-batasi. Tuhan diberi nama, Tuhan dilukiskan, Tuhan diuraikan kedalam kata-kata, dan lain sebagainya, berdasarkan petunjuk-Nya dan dari orang-orang arif bijaksana yang dituangkan kedalam kitab suci.

Tuhan yang memiliki semesta serta merupakan poros perputaran Tri Kona yaitu Sthiti, Utpetti, dan Pralina adalah yang segalanya.
Artinya adalah Ia saking besar serta maha luasnya, tidak dapat terbingkai oleh satu definisi mutlak akan diriNya.
Dan bahwa Ia yang penguasa, tidak dapat dibingkai oleh sederet kata-kata yang pas.
Neti-Neti, bahwa Brahman, Sang Hyang Widhi wasa dikatakan bukan ini bukan itu, artinya adalah saat suatu penggambaran atau definisi melibatkan IA;
Maka Ia adalah bukan yang didefinisikan,dan Ia juga bukan yang tidak didefinisikan. 
Seperti seorang yang mencari “pikiran” secara material dan berbentuk. Jelaslah mustahil memperlihatkan atau memandang pikiran sebagai benda yang merupakan sebuah metafisis atau abstrak. 

Saat kita berpikir, dan mungkin materi pikiran akan dapat diduga dan diberi “nilai” saat dilisankan atau dituliskan atau didiskusikan. 
Namun bentuk yang ada masih abstrak yang tidak bisa dinilai secara sangat tepat.
Seperti itulah pikiran, seperti itu lebihNya yang kuasa, dimana tidak bisa dilingkupi suatu yang disebut penyebutan. 

Sehingga Acintya (tak terpikirkan) menjadi suatu yang pasti dan dibatasi oleh neti-neti sebagimana disebutkan dharmanya tanpa batas bahwa definisinya tidak dapat dibingkai.
Apakah Tuhan berada di sebuah batu?
Lalu dengan itu kita definiskan keberhalaan?? maka “nilai” sebuah batu menjadi lenyap. 
Karena kembali bukan batu. 
Namun apakah Ia berada di atas langit ke tujuh sapta loka? Maka bisa saja, namun neti neti, IA kembali dikatakan dekat-sedekat kita.
***