Aja Were

Priti

Priti artinya cinta kasih dan sayang terhadap sesama mahluk sebagai bagian dari dasa yama bratha dalam pengendalian diri.
Priti juga artinya welas asih, perasaan suka terhadap orang lain dan kepada semua mahkluk sebagaimana disebutkan dalam analisis ajaran yoga yang dihubungkan dengan Sarasamuscaya;
Karena perasaan welas asih itu dikatakan sebagai kunci kebahagiaan hidup.
Misalnya dalam satu keluarga dikatakan bahagia apabila setiap individu dalam satu keluarga tersebut saling kasih mengasihi, saling menumpahkan kasih sayang sehingga semua anggota keluarga mendapatkan kasih sayang itu. 
Situasi demikian dapat terwujud dikarenakan setiap individu memiliki kesadaran bahwa dirinya merupakan satu kesatuan bulat utuh dalam keluarga, tidak bisa terpecah belah. 
Satu kesatuan yang utuh dan bulat dalam keluarga dapat dilihat berupa tanggung jawab bersama, ada kejujuran, ada pengorbanan oleh setiap individu, saling percaya, saling terbuka bila salah satu unsur itu hilang maka retaklah kehidupan keluarga itu.

Pola dasar kehidupan bahagia dalam contoh keluarga ini dapat dijadikan pola anutan untuk diterapkan kepada mahkluk lain.
Hal ini sangat jelas dalam kehidupan bahwa kasih sayang itu sangat perlu juga diberikan kepada mahkluk lain dengan cara melestarikan, mengembangkan hewan dan tumbuh – tumbuhan. 
Dengan pelestarian dan pengembangan ini, maka hewan dan tumbuhan dapat merasakan langsung kasih sayang manusia. 
Contoh nyata, hewan dan tumbuhan ini jika dipelihara manusia, akan lebih sehat dan cepat pertumbuhannya. 
Bagi hewan perkembangbiakannya pun menjadi lebih banyak.
Jadi kasih sayang berupa sentuhan tangan dan pemeliharaan itu penting bagi hewan dan tumbuh – tumbuhan untuk mendapatkan hasil dan pengembangbiakan semaksimal mungkin. 
Dari hasil tumbuhan dan pengembangbiakan semaksimal mungkin. Dari hasil tumbuhan dan pengembangbiakan hewan itulah manusia dapat menikmati dan mensejahterakan kebutuhan jasmaninya. 
Oleh karena itu manusia pun dapat merasakan hasil manfaat kasih sayang yang diberikan kepada jenis mahluk lain. Misalnya manusia hidup karena memetik dan memakan hasil tumbuh – tumbuhan, memotong hewan untuk dimakan dagingnya. 
Dalam memotong hewan, agar mendapatkan kebahagiaan batin terutama bagi yang memotong dan yang memakannya, maka dipergunakanlah mantram pemotongan hewan
Mantram ini bermaksud memohon perlindungan kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar roh atau jiwanya mendapatkan derajat yang lebih tinggi karena dipotong lehernya dengan hati yang suci. 
Di samping itu daging dari hewan potongan hewan itu dimohonkan agar bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia.

Jadi disini terdapat dua kedamaian :
  • Hewan yang dipotong lehernya, roh atau jiwanya damai karena telah diberikan kebahagiaan berupa peningkatan derajat.
  • Bagi yang memakan dagingnya juga merasakan kedamaian karena daging yang ia makan telah direstui oleh Tuhan serta tubuhnya pun menjadi sehat karena telah berlindung kepada Tuhan atas dasar hati yang suci.
Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa tumbuh – tumbuhan dan hewan yang dimakan manusia itu telah dihinggapi kasih sayang dari manusia disertai anugerah kedamaian dari Sang Hyang Widhi Wasa. 
Kasih sayang dan kedamaian itulah dapat mewakili dirinya kepada manusia.
Dengan demikian terjadilah proses saling sayang menyayangi, kasih mengasihi antara sesama mahkluk hidup.
Pada kenyataannya jiwa kasih sayang semua mahkluk ini dilandasi oleh berfikir dan hati yang suci tanpa pamrih dengan tulus ikhlas, dalam ajaran Agama Hindu disebut Prasada.
Dengan pandangan dan pola hidup prasada maka pada jiwa manusia akan terbentuk pribadi yang tidak angkuh (rendah hati), berpikiran halus. 
Ucapannya keluar berupa kata – kata yang ramah tamah, sopan santun, semua ucapannya dikeluarkan semata – mata untuk menyenangkan mahkluk lain yang mendengarnya. 
Dari sini pula perkembangan ahimsa yang menginginkan kesejahteraan hidup bersama sesuai dengan ajaran priti, welas asih kasih sayang kepada semua mahkluk.
***