Aja Were

Batu Paras

Batu paras adalah batu yang lunak, merupakan gabungan dari debu volkanik yang ditambang di tepi-tepi sungai.
Dimana penggunaannya terinspirasi dari filosofi paras paros dalam keharmonisan Tri Hita Karana khususnya hubungan palemahan antara manusia dan lingkungannya.
Seperti penggunaanya untuk pembuatan bedogol dari zaman dulu. 
Mungkin kelunakannya, satu-satunya batu di Bali, yang bertanggung jawab atas seni yang sangat rumit dari orang Bali dan mereka mempunyai kesenangan yang sederhana memberi lubang angin dengan hiasan yang sebagaimana disebutkan dalam blog ISI DPS, seni patung di Bali, dengan cara membuatnya disebutkan sebagai berikut :
  • Batu tersebut dipotong dan dibentuk dengan beliung, langsung di tempat di mana dia ditambang, dan dijadikan balok-balok berbagai ukuran sesuai dengan ukuran yang dibutuhkannya. 
  • Potongan-potongan batu untuk pembangunan dipadukan tanpa adukan semen, tetapi perlu bagi bangunan tersebut agar sambungannya telah melekat dengan baik. 
  • Ini dilakukan dengan saling menggosokan dua potong batu bersama, melicinkan permukaannya dengan banyak air. 
Dengan cara ini, bangunan tersebut berdiri pelan-pelan, para pekerja dilindungi dari sinar matahari dengan membuat tenunan daun kelapa, dan waktu yang lama dihabiskan sebelum pura bisa diselesaikan. 

Selang-seling batu merah dan batu paras diukir terakhir, sering meninggalkan batu merah dan batu paras itu selama bertahun-tahun. Misalnya, harus ada karang ceriwi diatas pintu gerbang.

Pada tempat-tempat yang kurang penting, motif utama dari sebuah pola yaitu sebuah karang bintulu, sebuah desain aneh yang populer terdiri atas mata tunggal yang melotot diatas deretan gigi atas, giginya dikembangkan menjadi taring, yang ditegakkan dengan representasi sebuah gunung
Untuk menyelesaikan sebuah sudut terdapat sebuah motif khusus, suatu karang curing, bagian atas dari paruh burung, juga menyediakan sebuah mata dan gigi runcing. 
Untuk tujuan yang sama terdapat variasi dari motif yang sama, sebuah karang asti, kepala gajah tanpa rahang.
***