Tahukah Anda ? Yasa kerti lan bhakti... memargi antuk manah suci.

Bhagawan Parasara

Bhagawan Parasara (Rsi Parashara) adalah seorang pertapa,
  • yang menjadi acarya terkenal dalam hal upaweda khususnya dalam Nitisastra
  • Beliau juga sebagai salah satu tokoh dalam hukum Hindu yang terkenal dengan kitab Parasara Dharmasastra yang diperuntukan pada jaman kali yuga.
Dalam Siwa Purana diceritakan pula, beliau menjadi rsi yang agung dan menjadi termasyur hanya karena berkah (anugerah) Dewa Siwa.

Ia memiliki pengetahuan yang tak terbatas. Karena ia menyukai astronomi, ia menjadi astrologi yang termasyur. Ia menulis sebuah buku yang berjudul Parashara Samhita. Ia terkenal bukan karena cucu Sakthi tetapi karena cucu Vashistha.
  • Setiap hari ia biasa menghitung pergerakan planet 
  • dan dengan itu ia bisa meramalkan apa yang akan terjadi.
Suatu kali ia harus menyeberangi sebuah sungai untuk menemui Dasaraja. 
  • Tetapi karena Dasaraja sedang makan, 
  • ia menyuruh putrinya Satyawati untuk mengantar sang raja menyeberangi sungai.

Perahu itu lajunya pelan. Riak-riak sungai bergerak dengan indah. Walaupun itu tengah hari suasananya sangat indah. 
  • Satyawati menyanyi dengan merdu. 
  • Parashara tiba-tiba merasakan perasaan aneh yang membuatnya amat terkejut.
Karena pergerakan planet, saat itu mendekati hari kelahiran Parashara. 
  • Apapun kastanya, 
  • jika seorang wanita itu masih murni, cahayanya akan sangat indah. 
Lirikan Parashara terhempas pada Satyawati. Kemudian ia bertanya padanya. Ia berkata bahwa ia masih perawan. 
  • Parashara karena itulah ia ingin agar Satyawati mengandung anaknya. 
    • Tetapi Satyawati takut keperawanannya hilang. 
  • Parashara mengatakan bahwa keperawanannya akan tetap tak terganggu. Parashara mengatakan bahwa,
    • bau amis akan hilang darinya berganti dengan bau yang sangat harum hingga sampai di kejauhan. 
Akhirnya malam itu Parashara menghamili Satyawati dan lahirlah seorang putra yang bernama Vyasa, 

Setelah semua yang ia lalui bersama Bhagawan Parasara, Satyawati akhirnya kembali ke kerajaannya. 

Tidak ada yang bertanya apapun padanya. Setap orang bersikap biasa saja seakan ia tidak pergi dengan pertapa ke tepi sungai.
***