Tahukah Anda ? *) Pencarian data

Jempana

Jempana adalah linggih atau stana Ida Bhatara - Bhatari yang biasanya diusung oleh krama desa adat berkeliling desa pada saat upacara yadnya tertentu dilaksanakan maupun sebagai tempat pratima dalam adat & kebudayaan upacara melasti yang sebagaimana disebutkan;
  • Setelah upacara Melasti usai dilakukan, 
  • seluruh benda suci dan perlengkapannya ditedunkan dari jempana tersebut untuk diusung kembali k Balai Agung Pura desa masing - masing.
Ketika krama menghias dan mengusung sebuah jempana dalam perspektif Tri Hita Karana, ada makna yang sangat mendalam bagi lestarinya sebuah kebudayaan sebagaimana dikatakan oleh congkodok dalam marerepuh yang dalam kutipannya dijelaskan sebagai berikut,
  • Dalam hubungannya dengan parahyangan, Jempana sebagai simbolis Ida Bhatara-Bhatari, yang dihias, ditedunkan dan diusung oleh krama,
    • Menghias dan mengusung jempana sebagai wujud rasa bhakti, rasa syukur kepada Ida Bhatara-bhatari yang melinggih di jempana tersebut.
    • Pada saat para krama ngiring Ida Bhatara-bhatari mengelilingi desa serta menuju ke segara menghaturkan sembah bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi, Bhatara Baruna serta bhatara-bhatari yang melinggih pada jempana-jempana yang ada.
  • Sebagai rasa persaudaraan antar krama dalam hubungannya dengan pawongan
    • Akan menjadi lebih dekat lagi, dimana secara bersama-sama krama mengusung jempana, mulai dari menghias, menedunkan, mengelilingi desa, ke pantai sampai kembali lagi ke desa dan melinggihkannya di Balai Agung.
    • Dengan adanya hubungan yang harmonis antara krama yang satu dengan yang lainnya dalam mengusung jempana, maka akan timbul rasa solidaritas antar sesama pemundut untuk memikul suatu tugas yang didasarkan rasa bhakti secara bersama-sama sehingga masyarakatpun akan harmonis pula demi mencapai tujuan bersama.
  • Jempana dalam upacara marerepuh yang dalam hubungannya dengan palemahan dalam mengelilingi desa dan pesisir pantai yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang dipakai seperti tenggala, tulud, gawu, sapu dll serta memercikan tirta untuk membersihkan keseluruhan alam dan desa baik secara skala maupun secara niskala sehingga terjadi hubungan yang harmonis manusia dengan alamnya.
***