Aja Were

Penunggun Karang

Penunggun Karang atau juga disebut sebagai Palinggih Pangijeng, merupakan salah satu tempat suci pekarangan rumah yang berfungsi sebagai sedahan penjaga karang atau palemahan beserta penghuninya agar senantiasa berada dalam lindunganNya, tentram, rahayu sekala niskala.
Mengenai pendirian palinggih yang disebut tugu Penunggun Karang ini dengan berbagai jenisnya sesuai dengan lontar asta dewa, asta kosala-kosali dan asta bhumi, disebutkan ternyata tidak selalu harus berada di lahan uttama mandala.
Setelah dicermati petunjuk lontar diatas, diketahui bahwa terdapat 5 jenis tugu;

yang apabila bentuk lahan mengarah timur-barat makan penempatannya 2 jenis tugu di lahan uttama mandala (areal sanggah / Merajan) yaitu :
  1. Tugu penyarikan, di posisi tenggara menghadap ke barat, 
  2. Tugu anglurah sedan dengan posisi di baratlaut menghadap ke selatan.
Di lahan madya mandala, juga terdapat 2 jenis tugu, yaitu tugu ajaga-jaga berkedudukan di pintu masuk bagian kanan menghadap ke barat dan tugu (surya) pangijeng natah berkedudukan di tengah-tengah natah (pekarangan) menghadap ke barat / selatan.

Dan akhirnya di lahan nista mandala terdapat jenis tugu yaitu tugu panunggun karang terletak di barat laut menghadap ke selatan.

Bangunan ini biasanya disebutkan berbahan batu (ref) yang diletakkan didepan rumah orang Bali yang beragama Hindu. Bangunan ini juga sering disebut "JRO GEDE";
Dan anak2 jaman now kerap menyebut dan memaknainya sebagai security dunia maya.

Penunggun Karang ini kita perlakukan secara terhormat, suci dan mulia karena beliau diyakini menjaga kerahayuan penghuni rumah. 
Apa yang kita makan dan minum sering kita haturkan juga terlebih dahulu kepada beliau, walau dalam porsi kecil, disamping canang sari dan dupa

Ketika kita pergi meninggalkan rumah, 
kita mesti lapor kpd beliau agar diberi keselamatan. 
Begitu juga ketika pulang kerumah dan membawa oleh2 jajanan atau buah2an, sebagai rarapan juga haturkan kepada beliau terlebih dahulu.

Konon pernah terjadi ketika rumah dalam keadaan kosong karena ditinggal pergi penghuninya lantas dijarah maling, beberapa barang berharga hilang. 
Maka si penghuni dgn putus asa secara khusyuk memohon di Penunggun Karang tersebut agar barang2nya yang hilang bisa ditemukan kembali.

Keesokan harinya si pencuri datang mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya. Dia gemetar dan memohon maaf atas perbuatannya. 

Usut punya usut ternyata dimalam hari dia dicari oleh orang bertampang seram, kulit hitam tinggi besar dan diancam akan dilaporkan ke Polda Bali.
***