Aja Were

Jenggala

Jenggala adalah hulu Pura Prajapati di Bali.

Konon Raja di Kerajaan Jenggala mempunyai seorang putra mahkota yang sangat tampan bernama Mantri Koripan. 
Lalu ia bermimpi didatangi Sang Hyang Ratih, hingga bengong di tempat tidur memikirkan mimpinya itu. 
Keesokan paginya, ia menceritakan mimpinya dan menanyakan arti mimpinya itu kepada Patih Arya Demung, I Sunta dan I Kartala. Patih Arya pun menyarankan Mantri Koripan agar pergi berburu ke hutan. Setelah dipilih hari yang baik untuk berburu, lalu menyusuplah rombongan Mantri Koripan ke tengah hutan. 
Namun, setelah sampai di tengah hutan, tiba-tiba turun hujan dan angin putting beliung, sehingga menyebabkan keadaan menjadi gelap gulita. 
Kemudian Mantri Koripan dihempaskan oleh angin, bagaikan kapuk berterbangan, hingga ia sampai di sebuah taman wilayah kerajaan Daha. 
Mengetahui putra mahkota hilang, maka para patih pun berusaha untuk mencari, tetapi tidak juga ditemukan. Akhirnya para patih bertolak kembali ke puri dan memberitahukan semua kejadian yang telah menimpa Mantri Koripan. Mendengar cerita para patih yang demikian, raja dan permaisuri sangat sedih, begitu juga dengan kerajaan dirundung kesedihan.
Diceritakna raja di Kerajaan Daha mempunyai seorang putri yang sangat cantik bernama Candra Kusuma. Ia sangat senang memetik bunga di taman, disertai oleh para pengikutnya. Ketika sedang asyik memetik bunga, ditemukanlah Mantri Koripan duduk di bawah bunga. Dan akhirnya diajak ke bancingah untuk dititipkan pada sebuah keluarga. Hari demi hari Mantri Koripan mendapatkan kesenangan dan bertambah tampan, sehingga semua orang yang melihatnya terpana olehnya. Kemudian Mantri Koripan disuruh tinggal di istana bersama dengan Raden Dewi Candra Kusuma. Disana pulalah Raden Dewi menamainya I Pakang Raras.
Keesokan harinya purnama sasih kapat, I Pakang Raras menghadap Raden Dewi untuk belajar bermain gender. Keduanya sangat selaras bermain gender. Selesai bermain gender, lalu Raden Dewi mengambil lontar. Kemudian I Pakang Raras membaca Kakawin Partha Wijaya, mamaos dengan Raden Dewi. 
Suaranya lembut dan merdu, bagaikan gula bercampur air gula. Sangat indah untuk didengarkan. Semua orang bicara saling colek, membicarakan I Pakang Raras, karena ia selaras dan serasi dengan Raden Dewi. Pelayan tidak henti-henti menyajikan sirih dan rokok kepada I Pakang Raras. 
Lain halnya dengan Ni Bayan, semua yang dibawanya tidak ada yang diterima, sehingga menyebabkan ia sangat marah. Akan tetapi ia takut dengan Raden Dewi, karena ia sedang mamaos. Raden Dewi beradu pandang dengan I Pakang Raras. Keduanya merasakan debar-debar cinta yang telah mengendap di hati. Lalu Raden Dewi memberikan I Pakang Raras sebuah keris.
Keesokan harinya I Pakang Raras mandi berbersih-bersih. Setelah selesai, kemudian ia datang ke jero untuk bertemu dengan Raden Dewi. Dijumpainya Raden Dewi sedang berhias, lalu berbunga cempaka kuning. Raden Dewi memberikan bunganya kepada I Pakang Raras, dan I Pakang Raras dengan senang hati menerima sambil mencakupkan tangan.  
Sesudah sore, I Pakang Raras mohon pamit. Namun hatinya masih ingin bersama Raden Dewi. Karena dilanda hati kasmaran, lalu ia berbalik kembali ke jero menemui Raden Dewi. Raden Dewi sangat terkejut melihat I Pakang Raras kembali, lalu ia pun menyuruh pergi. 
I Pakang Raras pun menurut. Sesampainya di luar, pikirannya masih juga ingin bersama Raden Dewi, meskipun ia menemui kematian. Maka ia pun kembali dan menuju ke kamar tidur Raden Dewi. Melihat sikap I Pakang Raras yang demikian, kemudian Raden Dewi pun marah sekali kepada I Pakang Raras. I Pakang Raras didorong dan dipukulnya hingga terjatuh, tetapi tidak juga ia pergi. I Pakang Raras berbicara sambil tersendat-sendat, meminta belas kasihan Raden Dewi, agar Raden Dewi mengerti perasaannya yang sedang jatuh cinta. 
Mendengar kata-kata I Pakang Raras, Raden Dewi lalu sedih, tidak dapat berkata, hanya saja air matanya yang keluar. Melihat keadaannya demikian, kemudian I Pakang Raras merayu Raden Dewi dengan lembut penuh perasaan sambil tersenyum, lalu mencium Raden Dewi. Raden Dewi tidak menolak, dan hubungan badan (Sanggama) pun terjadi.
Setelah pagi tiba, kedua insan yang dilanda asmara itupun bangun. Setelah berpelukan dan berciuman, I Pakang Raras lalu mohon pamit. Setelah mandi dan berhias, kemudian ia menggunakan cempaka kuning. Sesampainya di Bancingah lalu ke jero dan menghadap Raden Dewi. Raden Dewi sangat cantik dengan berbunga tunjung berwarna biru. Kemudian keduanya bertukar bunga. Kejadian tersebut diketahui oleh Ni Bayan, lalu segera melaporkan kepada raja. 
Mendengar cerita Ni Bayan tersebut, kemudian raja menyuruh Ni Bayan untuk mencari Gusti Patih. Sesampainya Gusti Patih di puri kemudian raja berbisik di telinga Gusti Patih. Gusti Patih mengerti lalu menunggu di luar. Raja kemudian menyuruh bawahannya pergi mencari I Pakang Raras, untuk disuruh menghadap raja.
Sesampainya di Puri, I Pakang Raras langsung menghadap raja sambil duduk bersila. Sang Raja heran melihat ketampanan dan kesopanan I Pakang Raras, kemudian raja menanyakan asal usulnya. I Pakang Raras lalu berdalih, ia mengatakan bahwa ia tidak mengetahui jati dirinya, dari kecil ia meninggalkan desa. Kemudian raja memerintahkan I Pakang Raras agar pergi ke pajarakan. Sebelum berangkat, I Pakang Raras merasa dirinya akan dibunuh, maka ia pun menulis surat kepada Raden Dewi. 
Inti surat tersebut bahwa,
I Pakang Raras (Mantri Koripan) sebenarnya sepupu dengan Raden Dewi (Candra Kusuma), dan sebagai buktinya adalah gelang yang disimpan di taman oleh I Pakang Raras. Setelah selesai menulis, lalu surat itu diletakkan di tempat tidur.
Sesampainya di bancingah, I Pakang Raras lalu berangkat disertai para patih. Setelah sampai di kuburan Daha, I Pakang Raras menyuruh para patih untuk membunuhnya. 
Akan tetapi, sebelum dibunuh I Pakang Raras berpesan kepada para patih. Kalau pada waktu ditikam, darahnya yang keluar berbau harum, maka I Pakang Raras adalah keturunan bangsawan, satria dan luhur. Sedangkan sebaliknya, darah yang keluar berbau amis, maka I Pakang Raras adalah keturunan petani, sudra, atau orang hina dina. 
Kemudian Gusti Patih diberikan sebuah cincin. Gusti Patih menyuruh yang lain untuk membuat liang kuburan. I Pakang Raras lalu bersiap menghadap ke timur. Kemudian Gusti Patih menikamnya. Memancarlah darah segar berbau harum hingga memenuhi kuburan, yang menandakan bahwa ia orang bangsawan. 
Mayatnya seperti hidup, memancarkan api berkobar-kobar. Lalu, para patih semua dirundung kesedihan menyesalkan yang telah pergi. Penguburan lalu dilaksanakan. Setelah selesai para patih kembali ke Puri. Dan menceritakan semuanya kepada raja. Mendengar cerita tersebut, raja sangat menyesal akan sikapnya itu.
Diceritakan Raden Dewi ingat dengan I Pakang Raras. Maka disuruhlah Ni Bayan untuk mencari I Pakang Raras, tetapi tidak ditemukan. Mengetahui hal itu, Raden Dewi sangat sedih berlinang air mata. Dan melampiaskan kegusarannya di kamar I Pakang Raras. Bantal guling dan barang-barang yang ada di sekitarnya dilemparnya. 
Hingga akhirnya ditemukan sepucuk surat. Setelah mengetahui isyarat dan surattersebut, segera Raden Dewi menyuruh Ni Bayan mengambil gelang di taman. Mengetahui gelang tersebut, Raden Dewi sangat sedih, tidak tahu apa yang harus dilakukan, hatinya serasa hancur ditinggal I Pakang Raras. Raden Dewi lalu menyuruh Ni Bayan pulang.
Raden Dewi duduk termangu-mangu, kemudian ada orang yang menghadap dan membisiki telinga Raden Dewi. Raden Dewi akhirnya mengetahui tentang kematian I Pakang Raras. Dengan segera menyuruh I Sanggit untuk mencari Ni Bayan. Ni Bayan lalu menghadap, Raden Dewi kemudian marah kepada Ni Bayan yang telah bercerita kepada raja. Bagaikan api disiram minyak, amarah Raden Dewi. 
Ni Bayan lalu dijambak, dibanting kemudian diinjak-injak, hingga seperti mati namun masih bisa berbicara.
Kemudian Raden Dewi pergi ke tempat tidur, mengambil bantal lalu didekapnya. Raden Dewi sangat gusar, bingung dan dirundung kesedihan yang sangat dalam. Kemudian Raden Dewi berpakaian dan mengambil keris, lalu berangkat. Sesampainya di Kuburan Daha. Di sana ia beristirahat sambil menyesalkan diri. 
Di sanalah ditemukan liang kubur yang mengeluarkan bau harum memenuhi kuburan tersebut. Raden Dewi melihat, sepintas tampak Mantri Koripan (I Pakang Raras). Membangkitkan cinta di hati. Raden Dewi lupa akan dirinya dan ia pun meninggal dunia.
Demikian diceritakan oleh Khrisna Duta dalam analisis Geguritan Pakang Raras dan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan memperkaya khasanah kesusastraan Bali khususnya dalam geguritan sebagai kisah - kisah menarik perjalanan atma menuju sorga atau neraka.
***