Keris

Istilah keris berasal dari bahasa Sansekerta atau Sanskrit yaitu kris yang berarti menghunus. 

Selain itu disebutkan bahwa nama lain dari keris yaitu :
  • Curiga yang berarti tajam.
  • Menurut etimologi jawa, Keris berasal dari dua kata yaitu Sinengker.
    • Memiliki arti rahasia atau disembunyikan dan kata Aris yang berarti bijaksana, hati-hati. 
    • Dengan demikian Kata Keris mengandung maksud agar manusia yang memiliki atau memegang keris mempunyai sikap yang rendah hati, tidak suka menonjolkan diri, tidak sombong, yang dikiaskan dengan bahasa sinengker dan juga mempunyai sikap yang bijaksana, hati-hati, tidak sembrono atau grusa-grusu.
  • Dhuwung dari dua kata udhu dan kuwung. 
    • Udhu berarti sumbangan atau kontribusi, sedang kuwung berarti kehormatan atau kewibawaan. 
    • Dari istilah ini diharapkan keris memberikan kontribusi meningkatkan derajat, wibawa dan kehormatan bagi pemiliknya.
Demikian dijelaskan dalam keris jalak buddha sebagai keris tertua di dunia yang dilestarikan oleh Bangsa Indonesia sebagai warisan nenek moyang kita.

Keris disebutkan juga tidak terlepas dari makna ketajamannya, yang terdiri dari tiga sisi ketajamannya yang awalnya disebutkan Keris adalah lambang dari kekuatan Tri Murti dimana dalam keris Bali disebutkan :
  • Pada sisi kanan, ketajaman Brahma, 
  • Sisi kiri, tajamnya Wisnu,
  • Ujung keris merupakan tajamnya Iswara (Siwa).
Intinya, lebih pada penyebab ketajaman dari tujuan dan pikiran manusia yang menjadi pangkal kekuatan hidup. Dengan kata lain,
  • ketajaman keris itu menjadi kecerdasan baik kecerdasan spiritual, 
  • kecerdasan intelektual, 
  • dan kecerdasan emosional, 
demikian penjelasan Tumpek Landep dalam Windu Sari Murti Krisna (ref).

Dalam Hindu, penggunaan keris ini banyak digunakan baik sebagai arca maupun dalam upacara yadnya, salah satunya dalam upacara perkawinan yaitu pada saat Mekala-kalaan (Mabeakala) pawiwahan,
Keris digunakan sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) bagi calon pengantin pria.
Perihal padewasan pembuatan dan pemilihan keris yang baik yaitu :
Keris sebagai benda pusaka yang memiliki beberapa luk atau jumlah lengkugan sebagaimana disebutkan dalam kutipan artikel kerismulyani - peperonity.com, keris dengan jumlah luk yang berbeda - beda tersebut sesuai dengan kepercayaan memiliki lambang / simbol tersendiri yaitu :
  • Keris Lurus: melambangkan stabilitas dan kemapanan atas kekuatan lahir dan bathin. Contoh keris: tilam upih, brojol, jalak sangu tumpeng, tilam sari, dls.
  • Keris Luk Satu (1) : melambangkan tekad yang kuat untuk menggapai sesuatu yang dikehendaki. Contoh keris: damar murub, lanang jawa, dls.
  • Keris Luk tiga (3) : melambangkan tercapainya cita-cita/mempermudah menggapai harapan. Contoh keris: jangkung, segara winotan, mahesa nempuh, dls.
  • Keris Luk Lima (5) : melambangkan pemiliknya lancar berbicara dan berkomunikasi. Contoh keris: Pendawa lare, pulanggeni, dls.
  • Keris Luk Tujuh (7) : melambangkan kekuatan dalam berbicara/adu argumen. Contoh keris: 
    • Kidang mas, carubuk, jaran goyang, sempana bungkem, dls.
    • (# Keris Mpu Gandring dengan 7 lelukan keris sakti.
  • Keris Luk Sembilan (9) : melambangkan sifat bijaksana dalam setiap urusan dan kemajuan usahanya. Contoh keris: carang soka, kidang soka, panimbal, dls.
  • Keris Luk Sebelas (11) : melambangkan kedinamisan, enerjik, semangat pantang menyerah untuk menggapai keinginan. Contoh keris: Sabuk Inten, sabuk tali, carita prasaja, dls.
  • Keris Luk Tiga Belas (13) : melambangkan kewibawaan. Contoh keris: sengkelat, sepokal, kara welang, dls.
Kisah dan legenda keris.

  • Diceritakan pada zaman dahulu dalam Babad Buleleng, tersebutlah dengan bantuan keris Ki Semang akhirnya Ki Gusti Panji berhasil menyelamatkan sebuah perahu.
    • Begitulah Ki Gusti Ngurah Panji dengan bantuan keris Ki Semang serta didukung oleh pribadinya yang welas asih akhirnya berhasil memimpin masyarakat desa Gendis.

***