Aja Were

Peradaban Budha dan Hindu pada Bali Kuno

Peradaban awal Bali Kuno yang ditemukan pada stupa-stupa dan batu bertulis di situs Pejeng dengan angka tahun Isaka 700 (778 Masehi) dalam bahasa Sanskerta adalah kutipan sebuah mantra Budha :

Ye dharma hetu prabhawa
Hetun tesan tathagato hyawadat
Tesanca yo nirodha
Ewam wadi mahasramanah
Artinya :
Keadaan tentang sebab-sebab kejadian (terciptanya dunia)
Sudah dijelaskan oleh Sang Budha yang maha mulia,
Beliau sudah menerangkan pula,
Apa yang seharusnya dilakukan manusia (di dunia ini)
Ini membuktikan Bali Kuna lebih dahulu mengenal Agama Budha dari pada Agama Hindu. Karena perbedaan waktu antara kedatangan para Bhiksu dengan kedatangan para misionaris Hindu (antara lain Maha Rsi Markandeya) tidak banyak, atau boleh dikatakan hampir bersamaan maka terjadilah percampuran antara dua agama itu.

Beberapa Prasasti yang bertarikh tahun 804 Isaka (tahun 882 Masehi) sudah menyebutkan nama-nama bulan kalender dengan solar system (Hindu) seperti di India berturut-turut : Waisaka, Jyesta, Ashadha, Srwana, Badrapada, Aswina, Kartika, Margasira, Pausha, Magha, Phalguna, dan Chaitra.

Selain itu, prasasti batu padas yang ditemukan di Blanjong (Sanur) telah bertuliskan tahun Saka menurut system candra sangkala dari peradaban Hindu : Khecara Wahni Murti.

Cara membaca system candra sangkala adalah dari belakang ke depan; Murti = Siwa = 8; Wahni = cahaya = 3; Khecara = bintang = 9. Jadi system candra sangkala itu menunjukkan tahun kejadian yakni : Isaka 839 (917 Masehi).

System candra sangkala selain menunjukkan tahun kejadian, juga berbentuk kalimat yang dapat ditafsirkan sebagai pemberitaan, dalam hal ini Khecara Wahni Murti artinya : Bintang yang terang bercahaya bagaikan Bhatara Siwa.

Oleh para akhli kalimat ini ditafsirkan sebagai pujian kepada Raja : Kesari Warmadewa yang ketika itu berkuasa dan beristana di Singhadwala, beragama Budha dari sekte Mahayana.
Percampuran budaya Budha – Mahayana dengan Hindu sekte Siwa Sidantha dan sekte Waisnawa telah terjadi di Bali Kuno setidak-tidaknya sejak tahun 882 Masehi seperti yang diuraikan diatas, jauh sebelum kejadian yang sama di Jawa Timur.

Percampuran Siwa-Budha di Jawa Timur baru secara resmi diakui sejak tahun 1365 Masehi oleh Mpu Prapanca dalam tulisan kekawinnya berjudul : Desawarnana, dan selanjutnya Mpu Tantular menulis hal sama pada kekawinnya : Arjuna Wijaya (1367 Masehi) dan Sutasoma (1380 Masehi).
***